Tentang Pegasus, Spyware WhatsApp yang Mengerikan

Tentang Pegasus, Spyware WhatsApp yang Mengerikan

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Minggu, 30 Agu 2020 05:35 WIB
People are seen as silhouettes as they check mobile devices whilst standing against an illuminated wall bearing WhatsApp Incs logo in this arranged photograph in London, U.K., on Tuesday, Jan. 5, 2016. WhatsApp Inc. offers a cross-platform mobile messaging application that allows users to exchange messages. Photographer: Chris Ratcliffe/Bloomberg via Getty Images
Foto: Chris Ratcliffe/Bloomberg
Jakarta -

Ada penemuan cukup meresahkan pada Mei 2019 lalu, yaitu ditemukannya lebih dari 100 orang yang ponselnya terinfeksi spyware WhatsApp bernama Pegasus.

Profesi korbannya ini bermacam, dari mulai aktivis kemanusiaan, jurnalis, pengacara dan sejumlah profesi lain. Korbannya tersebar di setidaknya 20 negara di Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Bahkan kemudian ditemukan fakta bahwa setidaknya ada 1.400 orang yang pernah menjadi korban serangan Pegasus. Facebook -- pemilik WhatsApp -- pun kemudian menggugat NSO Group yang merupakan pembuat Pegasus.

Dalam gugatannya itu, spyware WhatsApp tersebut disebut mempunyai kemampuan mata-mata dalam tiga level. Yaitu data ekstraksi, pemantauan pasif, dan pengumpulan data secara aktif.

"Pegasus didesain, salah satu bagiannya, untuk mengintersepsi komunikasi yang dikirim dan diterima dari perangkat, termasuk komunikasi melalui iMessage, Skype, Telegram, WeChat, Facebook Messenger, WhatsApp, dan lainnya," tulis WhatsApp dalam keterangannya.

NSO Group -- juga dikenal dengan nama Q Cyber Technologies --, sebuah perusahaan berbasis di Israel yang mengembangkan dan menjual teknologi spyware, salah satunya spyware WhatsApp. Pemilik saham mayoritasnya adalah Novalpina Capital, sebuah perusahaan ekuitas privat asal Eropa.

NSO mengaku hanya menjual spyware ini ke pemerintahan, dan sudah mengikuti semua aturan ekspor yang berlaku di Israel, penggunaannya pun terus diawasi. Namun pada kenyataannya, seperti ditulis Citizen Lab, teknologi ini sering disalahgunakan untuk memata-matai aktivis kemanusiaan.