Hati-hati Kalau Ikutan #Faceappchallenge

Hati-hati Kalau Ikutan #Faceappchallenge

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 23 Jun 2020 08:05 WIB
FaceApp
Hati-hati kalau Ikutan #Faceappchallenge (Foto: Adi Fida Rahman/detikcom)
Jakarta -

Setelah sebelumnya pernah viral ketika merilis filter 'swap gender', aplikasi FaceApp kembali ngetren dengan filter terbarunya yang memungkinkan pengguna operasi plastik (oplas) digital.

Tren baru ini bahkan memunculkan tagar #faceappchallenge dan #oplaschallenge, dan dibagikan ratusan ribu kali oleh para pengguna di media sosial (medsos) Facebook dan Instagram.

Seiring viralnya sebuah tren, akan selalu ada kekhawatiran terkait keamanannya. Aplikasi dengan teknologi pengenalan wajah seperti FaceApp memunculkan risiko berbagi informasi.

"Masa isolasi dan di rumah saja selama pandemi membuat orang menghabiskan lebih banyak waktu di medsos. Mereka juga beralih ke medsos untuk mengatasi stres dan kecemasan," kata Yeo Siang Tiong, General Manager Kaspersky Asia.

Dalam keterangannya, Yeo menyebutkan bahwa berbagi foto dan video menggunakan aplikasi dengan tambahan filter wajah yang cantik dan tampan, atau lebih tua, bahkan menukar gender menggunakan FaceApp saat ini sedang populer.

"Tidak ada salahnya menggunakan aplikasi ini, tetapi kami juga mendesak pengguna medsos untuk selalu memperhatikan dengan seksama seberapa besar informasi pribadi mereka akan digunakan dan dibagikan oleh aplikasi tersebut demi menghindari berbagai risiko," ujar Yeo mengingatkan.

Fabio Assolini selaku analis keamanan senior di Kaspersky memastikan bahwa FaceApp tidak mengandung elemen berbahaya. Namun, karena pengenalan wajah adalah teknologi yang kini digunakan juga untuk hal lain terutama untuk otentikasi password, pengguna harus sangat berhati-hati dalam berbagi gambar dengan pihak ketiga.

"Kita harus memperlakukan bentuk-bentuk otentikasi baru ini layaknya kata sandi, karena setiap sistem pengenalan wajah yang tersedia secara luas, pada akhirnya dapat digunakan untuk hal baik maupun buruk," ujar Fabio.

Menurut Fabio, perusahaan yang memiliki aplikasi semacam itu berpotensi memfasilitasi atau menjual gambar-gambar tersebut kepada entitas yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat modifikasi pengenalan wajah.

"Selain itu, harus diperhitungkan bahwa data ini disimpan di server pihak ketiga, dan juga berpotensi untuk dicuri oleh para pelaku kejahatan siber dan digunakan sebagai identitas samaran," tambahnya.

Oleh karena itu, para analis keamanan merekomendasikan agar sebelum bergabung dengan aplikasi baru, pengguna harus mengetahui keamanannya dan mengunduhnya hanya dari toko aplikasi resmi.

Ia juga menyoroti pentingnya membaca persyaratan privasi untuk memahami hak dan jenis akses yang diminta oleh aplikasi tersebut. Kalau kalian mau mendownload sebuah aplikasi, Kaspersky menyarankan untuk mengambil tindakan pencegahan sebagai berikut:

  • Pastikan aplikasi itu andal, terpercaya, serta diunduh dari situs web resmi
  • Baca ketentuan privasi untuk memahami informasi apa saja yang diminta
  • Perlakukan teknologi pengenalan wajah layaknya kata sandi - jangan menggunakannya secara bebas
  • Selalu periksa izin yang diminta, seperti login terkait dengan akun yang ada di jejaring sosial tertentu.


Simak Video "Tips Cegah Kejahatan 'Phising' Bagi UMKM di Masa Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)