Rabu, 04 Des 2019 06:03 WIB

TikTok Dituding Jadi Mata-mata China

Rachmatunnisa - detikInet
TikTok. Foto: Joe Scarnici/Getty Images TikTok. Foto: Joe Scarnici/Getty Images
Jakarta - TikTok, media sosial berbagi video 15 detik, dituding pemerintah Amerika Serikat (AS) secara diam-diam 'memanen' data personal para penggunanya dan mengirimkannya ke China.

Tudingan ini tertulis dalam gugatan class action yang diajukan diajukan ke pengadilan federal California minggu lalu. Gugatan itu juga menuduh TikTok dan perusahaan induknya ByteDance, telah mengambil konten pengguna seperti draft video tanpa persetujuan mereka. Keduanya juga dinilai memiliki kebijakan privasi yang ambigu.

Tuduhan terhadap TikTok adalah contoh terbaru dari kekhawatiran keamanan yang sedang berkembang di AS. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS memang semakin waspada dengan perusahaan media sosial, sejak kasus kebocoran data Facebook yang melibatkan Cambridge Analytica.



Kekhawatiran berlebih terutama diarahkan AS ke China. Selain ketakutan akan masalah privasi, mereka juga menaruh curiga bahwa perusahaan asal Negeri Tirai Bambu berpotensi memata-matai dan mencuri data. TikTok hanya salah satu dari sekian banyak perusahaan China yang terkena imbas dari hubungan yang kurang baik di antara AS dan China.

Kasus sebelumnya juga kian memperparah kondisi ini. Sebelumnya, seorang mahasiswa warga Palo Alto, California bernama Misty Hong menuntut ByteDance, TikTok dan Musical.ly karena diduga melanggar undang-undang penipuan komputer federal, serta hak konstitusi untuk privasi dan hukum.

Dalam gugatannya, Hong menyebutkan video TikTok sering menyertakan gambar wajah orang dari dekat, sehingga memungkinkan aplikasi tersebut mengumpulkan data biometrik penggunanya.

"Setelah pengguna merekam video dan mengklik tombol 'selanjutnya', video tersebut ditransfer ke berbagai domain tanpa sepengetahuan mereka. Ini terjadi bahkan sebelum pengguna menyimpan atau memposting video di aplikasi," demikian bunyi gugatan tersebut.

Bukan tanpa sebab Hong mengajukan gugatan. Dia mengunduh TikTok pada April 2019 tetapi tidak pernah membuat akun. Beberapa bulan kemudian, dia menemukan akun TikTok atas namanya.

Dia membuat lima atau enam video menggunakan aplikasi tersebut, namun tidak pernah menyimpan atau menguploadnya. Nyatanya, TikTok diam-diam mengambil video dan data tersebut tanpa sepengetahuannya dan mengirim informasi ke server di China.



"TikTok juga mengumpulkan data penggunanya, termasuk kontak telepon dan jejaring sosial, alamat email, alamat IP, lokasi, dan informasi lainnya. TikTok juga diduga menggunakan taktik yang berbeda untuk menyembunyikan bahwa mereka mentransfer data pengguna. Bahkan, ketika pengguna menutup aplikasi, mereka masih memanen data biometrik dan pengguna," tulis gugatan tersebut.

Simak Video "Gara-gara TikTok, BTS Pecahkan Rekor Lagi di Guinness World Records"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)