Jumat, 10 Mei 2019 02:27 WIB

Hacker Gondol Bitcoin Senilai Rp 578 Miliar

Fino Yurio Kristo, Fino Yurio Kristo - detikInet
Bitcoin. Foto: Australia Plus ABC Bitcoin. Foto: Australia Plus ABC
Jakarta - Sebuah perusahaan penukaran mata uang digital dibobol hacker. Kerugiannya mencapai sekitar 31 juta poundsterling atau di kisaran Rp 578 miliar.

Perusahaan Binance yang menyimpan Bitcoin dan cryptocurrency lain untuk para anggotanya, menyatakan bahwa hacker berhasil menggondol 7.000 Bitcoin. Saat ini, anggota tidak dapat menarik mata uangnya.

Mereka berjanji akan menggantikan kerugian dengan bantuan asuransi. Binance memaparkan penyerang siber itu menggunakan beragam teknik untuk membobol Bitcoin.




Mereka menggunakan virus dan serangan phishing. Akhirnya, mereka berhasil mengakses 'hot wallet' yang mengandung sekitar 2% dari aset mata uang digital Binance.

Para hacker itu sabar menunggu untuk mendapatkan akses pada beberapa akun dan kemudian menarik Bitcoin dalam jumlah besar. "Sayangnya kami tidak bisa memblokir penarikan sebelum dieksekusi," sebut Binance.

"Saat dieksekusi, penarikan memicu beberapa alarm di sistem kami. Kami menghentikan semua penarikan segera setelah itu," tambah mereka yang dikutip detikINET dari BBC.

Fungsi untuk menarik uang mungkin belum akan tersedia sampai seminggu. CEO Binance, Changpeng Zhao, merasa kecewa dengan kejadian ini.

"Saya tidak banyak tidur dalam 29 jam terakhir. Jujur saja, saya merasa tidak baik-baik saja, ini bukan hari yang bagus," kata dia sembari menambahkan pihaknya bekerja keras untuk melindungi serangan berikutnya.




Serangan siber semacam ini pernah terjadi dalam skala lebih besar. Di tahun 2014, Mt Gox menderita kerugian USD 470 juta akibat ulah hacker.

"Bisnis blockchain harus mengimplementasikan kontrol yang umum terlihat di sektor bank tradisional jika mereka ingin memenangkan konsumen. Asuransi siber adalah kebutuhan umum saat ini karena pencurian identitas, malware dan serangan siber sering dilakukan pada blockchain dengan nilai tinggi dan perusahaan cryptocurrency," kata pengamat siber, Matthew Hickey. (fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed