Kamis, 24 Mei 2018 13:14 WIB

Ini Penjelasan Voucher McDonald's di WhatsApp Cuma Hoax

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi WhatsApp. Foto: GettyImages Ilustrasi WhatsApp. Foto: GettyImages
Jakarta - Pesan berisi iming-iming hadiah yang kerap beredar di aplikasi berbagi pesan ternyata memiliki potensi bahaya di dalamnya, mulai dari aksi penipuan hingga penyebaran malware.

Baru-baru ini, pengguna WhatsApp dibuat heboh dengan menjamurnya pesan berisi penawaran kupon berhadiah yang mengatasnamakan salah satu restoran cepat saji, yaitu McDonald's. Lalu, apa sebenarnya maksud dibalik penyebaran pesan tersebut?

"Kelihatannya ini adalah ulah pemasang iklan yang ingin mendapatkan keuntungan finansial dari klik," ujar Alfons Tanujaya, pakar peneliti keamanan internet dari Vaksincom, kepada detikINET.

Ia melanjutkan, walaupun penawaran tersebut tampak jelas bukan dari pihak McDonald's, namun pembuat scam tersebut cukup cerdik dengan memanfaatkan salah satu kelemahan pengguna WhatsApp. "Kalau ada barang gratisan, yah tidak ada salahnya di coba, kira-kira prinsipnya seperti itu," ucapnya menjelaskan.

"Lalu, setelah diyakinkan dengan survei abal-abal, trik memviralkan promo dilakukan dengan mengelabui korbannya bahwa ia sudah mendapatkan kupon McDonalds. Tetapi syaratnya adalah ia harus membagikan kepada 30 orang kontak WA-nya," tuturnya seraya menjelaskan mekanisme dari penyebaran pesan tersebut.

Kemudian, terkait dengan kuesioner yang muncul setelah mengakses laman melalui tautan di dalam pesan tersebut, Alfons mengatakan tujuan utama dari survei itu adalah memberikan keuntungan finansial bagi pembuat scam. Keuntungan tersebut bisa dalam bentuk tampilan iklan yang mendapat klik maupun survei yang akan diikuti oleh korbannya.



"Di sini sebenarnya pemasang iklan bisa melacak siapa biang keladi pembuat iklan dan mengambil tindakan tegas. Karena iklan yang muncul dari teknik scam secara tidak langsung akan menurunkan kredibilitas perusahaan pemasang iklan," ujarnya

"Harusnya pemasang iklan jeli dan melakukan tindakan tegas untuk mem-blacklist affiliate marketer dan pembuat iklan yang melakukan metode scam dan pembohongan karena secara tidak langsung menjelekkan citra pemasang iklan menjadi pendukung scam," katanya menambahkan.

Menurutnya, pendekatan tersebut akan efektif, karena dengan memotong sumber pemasukannya, maka motivasi pembuat scam dalam menyebarkan penipuan tersebut akan menurun. Satu yang tak kalah pentingnya, pengguna WhatsApp pun juga harus cerdas dalam menyikapi munculnya pesan spam seperti ini.

"Diamkan saja dan informasikan kepada teman yang menyebarkan kalau dia menjadi korban scam," ucap Alfons menyarankan.

Selain itu, ia pun turut menyebutkan potensi bahaya jika pengguna WhatsApp mengakses tautan yang disertakan pada pesan penipuan tersebut. Menurutnya, pesan tersebut bisa saja diselipkan kode malware sehingga ponsel atau perangkat lain yang mengakses tautan tersebut. Akibatnya, user akan rentan menjadi korban malware yang biasanya berbentuk trojan dan key logger.

"Untuk menghadapi trojan memang perlu menggunakan program anti malware seperti Windows Defender," kata Alfons.

Selain itu, tak lama setelah kupon berhadiah yang mengatasnamakan McDonald's menyebar, muncul juga pesan berisi penjelasan mengenai praktik penipuan tersebut. Intinya, pesan itu meminta pengguna WhatsApp tidak mempedulikan pesan itu karena data-data yang dimasukkan bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed