Kamis, 18 Jan 2018 19:14 WIB

Menkominfo: Setiap Hari Ada Jutaan Serangan Siber

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Proses pembentukan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) terus dilakukan, terutama proses transisi berbagai instansi ke benteng pertahanan siber terbaru milik Indonesia tersebut. Mengingat serangan siber terus terjadi belakangan ini.

BSSN sendiri diketahui merupakan penggabungan dari Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Direktorat Keamanan Informasi Kementerian Kominfo, dan Indonesia Security Incident Response Team on Internet and Infrastructure (ID-SIRTII).

"Teman-teman di staf, sudah bicara dan yang prioritas adalah ID-SIRTII. Transfer transisi ID-SIRTII dari Kominfo ke BSSN karena ID-SIRTII itu tidak boleh vakum. ID-SIRTII itu harus ada karena setiap hari ada jutaan (serangan siber) yang (dalam bentuk) malware, itu penting agar masyarakat kita bisa terproteksi," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara di Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Berdasarkan laporan ID-SIRTII, sepanjang tahun kemarin, Indonesia digembur 205.502.159 serangan siber, di mana itu dilihat dari hasil pemantauan trafik anomali nasional dari Januari sampai November 2017. Dari semua jenis serangan, malware yang paling banyak menyerang keamanan internet Indonesia sebanyak 36.423.773 aktivitas.

Maka dari itu, Menkominfo mengatakan ID-SIRTII harus tetap bekerja meski sedang proses perpindahan 'kepemilikan' dari Kominfo ke BSSN. Sampai saat ini, ID-SIRTII masih berada dibawah kendali Kominfo.

"(ID-SIRTII) yang mengkoordinasikan, mengidentifikasi kemungkinan ada serangan, terutama malware seperti WannaCry, Petya, itu harus ada ID-SIRTII dan tidak boleh vakum. Itu prioritas dan sekarang sudah dibicarakan di staf. Kalau teman-teman BSSN sudah siap, ya secepatnya," tuturnya.

Mengenai kapan rampungnya proses transisi ini, Menkominfo mengatakan hal itu akan berlangsung paling lambat Mei 2018.

"Mei 2018 harus sudah selesai semua transisi. ID-SIRTII, dokumentasi, kalau ada orang dan sebagainya karena di Perpresnya satu tahun transisi," sebut pria yang disapa Chief RA ini. (rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed