Pakar: Tak Masalah BSSN Lambat Dibentuk

Pakar: Tak Masalah BSSN Lambat Dibentuk

Agus Tri Haryanto - detikInet
Sabtu, 03 Jun 2017 17:04 WIB
Foto: internet
Jakarta - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) baru saja terbentuk. Namun kehadirannya dianggap cukup terlambat oleh sejumlah pihak.

Pakar bidang ilmu forensik digital Ruby Alamsyah menilai bahwa pembentukan BSSN ini bisa dikatakan terlambat. Sebab benih BSSN sudah ada sejak tahun 2013 namun baru terlahir empat tahun kemudian.

Dijelaskan Ruby, cikal bakal BSSN itu dulunya bernama Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional (DK2ICN). Keberadannya di bawah Deputi VII Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM (Kemenkopolhukam).

"Penyebutan sederhananya itu Desk Cyber. Itu sudah ada sejak zaman menterinya Pak Djoko (Suyanto), Pak Luhut, sudah ada SK-nya, baru di Pak Wiranto diresmikan lewat Perpres," ujar Ruby yang jebolan TI Universitas Gunadarma kepada detikINET, Jumat (2/6/2017).

"Dikatakan terlambat memang terlambat apalagi perkembangan seperti cyber crime terus tumbuh, baik di lokal maupun internasional. Tapi terlambat gak masalah, asal BSSN nanti bisa segera dioperasikan," tambahnya.

Seperti diketahui, BSSN terbentuk dari peleburan dua institusi, yaitu Lembaga Sandi Negara yang bergabung dengan Direktorat Keamanan Informasi, Direktorat Jenderal Aplikasi Informasi (Aptika), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjadi satu tubuh bernama BSSN.

Berdasarkan Perpres Nomor 53 Tahun 2017 tentang Badan Siber dan Sandi Negara, badan tersebut paling lambat beroperasi empat bulan sejak diundangkan. Dengan kata lain, September tahun ini 'benteng internet' kepunyaan Indonesia akan tegak berdiri.

Dorongan untuk mempercepat pengoperasian BSSN ini, dikatakan Ruby, karena semakin masifnya kebutuhan cyber security. Nantinya BSSN dapat dimanfaatkan untuk menjaga sektor-sektor penting.

"Menjaga infrastruktur krusial, mulai dari sektor keuangan, transportasi, dan segala bentuk yang perlu dijaga data-data milik kita dari penyerangan dari luar," sebutnya.

Dengan demikian, Ruby mengharapkan BSSN yang dulu digandang-gandang bernama Badan Siber Nasional (Basinas) ini untuk memitigasi hingga recovery.

"Menjaga kedaulatan internet kita yang tidak hanya fisik tapi juga di dunia maya juga harus berdaulat. Jangan sampai disusupi pihak asing dan mengambil data-data kita," serunya. (afr/afr)