Senin, 15 Mei 2017 09:35 WIB

WannaCry Mewabah, Microsoft Salahkan Pemerintah AS

Fino Yurio Kristo - detikInet
Laptop Microsoft. Foto: Drew Angerer/Getty Images Laptop Microsoft. Foto: Drew Angerer/Getty Images
Jakarta - Microsoft mengkritik pemerintah Amerika Serikat terkait penyebaran ransomeware WannaCrypt. Pemerintah AS dianggap menimbun banyak eksploitasi sistem komputer yang disembunyikan, termasuk WannaCrypt ini yang berhasil dicuri hacker.

Seperti diberitakan, WannaCrypt yang disebut juga WannaCry menginfeksi sedikitnya 200 ribu komputer di 150 negara. Penyerang mengunci komputer dan meminta tebusan bitcoin untuk membukanya.

Software WannaCrypt ini bisa menyebar otomatis melalui sistem file sharing di jaringan. Ia memanfaatkan celah keamanan di versi lama Windows dan dirancang oleh lembaga keamanan AS National Security Agency, sebelum jatuh ke kelompok hacker.

"Serangan ini adalah contoh lain mengapa menimbun celah keamanan oleh pemerintah adalah masalah. Kita sudah melihat celah keamanan yang disimpan CIA bocor di WikiLeaks dan sekarang dicuri dari NSA dan berdampak pada kustomer di seluruh dunia," sebut presiden Microsoft, Brad Smith.

"Berulang kali, eksploitasi oleh pemerintah bocor ke domain publik dan menimbulkan kerusakan luas," imbuhnya, seperti dikutip detikINET dari CNBC, Senin (15/5/2017).

Microsotft menegaskan bahwa patch untuk celah keamanan di Windows itu sudah dirilis awal tahun ini. Tapi banyak pihak tidak menambal komputer lama. Saat ini Microsoft berusaha membantu konsumen yang terdampak, meskipun mereka memakai Windows versi dulu.

Brad memperingatkan serangan yang mirip akan terjadi lagi kecuali pemerintah berhenti menimbun tool semacam itu. "Pemerintah harus menanggapi serangan ini sebagai wake up call. Mereka harus memperlakukan dunia siber dengan aturan yang sama dengan senjata di dunia nyata," ujarnya.

"Pemerintah harus mempertimbangkan kerusakan pada warga sipil. Inilah salah satu alasan kami menyarankan pemerintah melaporkan saja celah keamanan ke vendor ketimbang menimbun, menjual atau mengeksploitasinya," pungkas Brad. (fyk/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed