"Tak cukup menggunakan antivirus (untuk memblokir ransomware), tidak ada yang 100 persen efektif," pungkas Alfons Tanujaya, Direktur Vaksincom dalam acara seminar Evaluasi 2016 dan Tren Malware Indonesia 2017 Vaksincom di Jakarta, Rabu (14/12/2016).
Menurut Alfons, satu-satunya cara untuk bisa mengamankan data dari serangan ransomware adalah dengan melakukan backup data. Dengan begitu, jika data yang ada di komputer terkena ransomware, maka si pengguna tetap bisa mengakses data tersebut karena sudah di-backup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Backup secara lokal menurut Alfons lebih cocok dilakukan untuk data 'slow moving' seperti film dan foto, yang jarang diakses dan mempunyai ukuran besar. Sementara backup di cloud sebaiknya digunakan untuk data 'fast moving' yang sering diakses seperti dokumen kerja, karena ukurannya yang kecil.
"File pekerjaan ini biasanya berukuran kecil, tidak terlalu besar, sehingga bisa cukup diakomodasi oleh cloud storage yang tersedia secara gratis, seperti Google Drive yang memberikan storage cuma-cuma sebesar 15 GB," tambah Alfons.
Ditambahkannya, layanan cloud ini relatif aman karena kebanyakan juga menyimpan catatan data pengguna selama beberapa waktu ke belakang.
Sementara untuk data 'slow moving' yang disimpan di hardisk eksternal, Alfons pun punya tips lain, yaitu untuk tidak mengkoneksikan perangkat ini ke internet agar tetap aman, dan diakses seperlunya saja.
"Kuncinya di situ, jangan sambungkan hardisk ke internet atau jaringan lokal. Kalau terkoneksi tetap rawan diserang ransomware atau malware lain," jelasnya. (asj/rns)