Alasannya karena Facebook menyimpan terlalu banyak infomasi mengenai pengguna, mulai dari tanggal lahir, sejarah pekerjaan, dan lain-lain. Bahkan dari media sosial ini juga bisa diketahui relasi antara satu pengguna dan pengguna lainnya.
Tapi sebenarnya dari sisi pengguna sendiri bisa membatasi sejauh mana informasi yang bisa dilihat publik. Meski demikian tak sedikit pengguna yang malah terkesan cuek dengan privasinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka (pengguna Facebook-red.) suka berbagi apapun, seperti memberitahukan lokasinya atau melalui status-statusnya. (Berkat Facebook) menggali informasi kini sangat mudah. Kalau ada yang berniat jahat mereka bisa dapat dengan mudah mempelajari pola aktivitas pengguna Facebook yang diincar," kata Chee Choon Hong, Direktur Consumer & Small Business Norton APAC, di Penang Bistro, Jakarta, Selasa (8/3/2016).
Alhasil, lanjut Hong, saat ini seorang pembobol password pun tak perlu wajib menguasai bahasa pemrograman. Malahan terkadang cuma dibutuhkan kemampuan tebak-tebakan untuk memecahkan suatu password, dibanding hacker sungguhan yang memanfaatkan skill pemrograman.
"Terkadang hanya dengan menebak sudah cukup untuk menemukan password," imbuh Hong.
Tapi tebakannya tentu bukan asal-asalan, biasanya password yang suka ditebak pembobol cyber adalah yang umum-umum seperti tanggal lahir, penggunaan kata 'rahasia', 123456, atau abcdefg. Jadi pastikan, password Anda bukan kata-kata tersebut. (yud/ash)