Klaim tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagai permulaan, sensor ini tidaklah sempurna. Pemindai kapasitif model lama sulit untuk mengenali sidik jari yang basah, dan dalam kebanyakan kasus sering kali tidak bekerja pada upaya pertama.
Selain itu, masih banyak sensor yang belum dapat membedakan antara jari yang asli dengan jari hasil cetakan - dan ini adalah sebuah celah yang sangat besar dalam hal keamanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, sensor ultrasonik baru ini akan tetap bekerja bahkan jika jari Anda kotor atau basah. Namun menurut Kaspersky, dalam keterangannya yang diterima detikINET Minggu, (24/1/2016) ancaman lain tetaplah ada.
Penyebabnya adalah kebanyakan smartphone memiliki sensor yang tidak terenkripsi, sehingga memungkinkan malware mendapatkan gambar langsung dari pemindai sidik jari. Yang menarik, smartphone Apple ternyata cukup aman, karena mereka mengenkripsi data sidik jari dari pemindai.
Para peneliti menunjukkan betapa mudahnya untuk mencuri sidik jari dari jarak jauh, bahkan tanpa kontak tatap muka. Seseorang dapat melakukannya hanya dengan foto jari korban yang berkualitas.
Kamera SLR dengan lensa zoom yang baik atau bahkan sebuah foto majalah yang dicetak dalam resolusi tinggi sudah cukup. Sebagai informasi, metode yang sama dapat juga digunakan untuk memalsukan iris mata.
Ketika kata sandi Anda bocor, Anda dapat mengubahnya dalam beberapa menit, tetapi Anda harus hidup dengan sidik jari Anda selama sisa hidup Anda. Bagaimana jika mereka dicuri?
(asj/asj)