"Jelas, itu uang yang sangat banyak. Cukup untuk dibelikan iPad dan dibagikan ke seluruh pekerja yang ada di dunia," kata Raymond Goh, Senior Regional Director Systems Engineering and Alliances Asia South Region Symantec, di Grand Hyatt Jakarta, Rabu (19/9/2012).
Angka itu disimpulkan Symantec berdasarkan riset State of Information Survey 2012 yang ditelusurinya ke 4.506 perusahaan global di lebih dari 36 negara dunia termasuk Indonesia.
Total biaya USD 1,1 triliun itu terdiri dari berbagai komponen biaya seperti access USD 117 miliar, storage USD 309 miliar, compliance USD 295 miliar, dan security USD 324 miliar.
Biaya itu hanya hitungan untuk mengelola informasinya saja. Tak terbayangkan berapa nilai sebenarnya dari informasi yang mayoritas berisi data rahasia pelanggan, kekayaan intelektual, transaksi finansial, dan lainnya. Bisa berlipat-lipat nilainya.
Symantec juga mencatat, jumlah total informasi yang disimpan seluruh perusahaan di dunia itu mencapai 2,2 Zettabytes. Perusahaan UKM rata-rata tercatat memiliki 563 Terabyte data dan perusahaan besar rata-rata punya 100 ribu Terabyte data. Sementara informasi untuk perusahaan besar akan tumbuh 67%, untuk UKM 178%.
Tercatat juga, rata-rata perusahaan di dunia menghabiskan USD 38 juta per tahun untuk biaya mengelola informasi, sementara UKM USD 332 ribu. Namun biaya tahunan per karyawan untuk UKM jauh lebih besar, yaitu USD 3.670, jika dibandingkan dengan perusahaan besar USD 3.297.
Contoh lain, usaha kecil dengan 50 karyawan menghabiskan USD 183.500 untuk manajemen informasi. Sementara perusahaan besar dengan 2.500 karyawan akan menghabiskan USD 8,2 juta.
"Temuan di Indonesia bahkan mengungkap bahwa informasi digital menyumbang 70% dari total nilai perusahaan dibanding aset lainnya," kata Goh.
Dengan 70% informasi sebagai aset terbesar perusahaan, harusnya menurut dia, perlindungan informasi jadi prioritas utama. Namun nyatanya, banyak perusahaan yang kurang menjaganya, Goh menyesalkan.
Tahun lalu tercatat 88% perusahaan mengalami kehilangan data dalam berbagai cara, mulai dari kesalahan manusia, kegagalan hardware, pelanggaran keamanan, serta perangkat hilang atau tercuri.
Kemudian, 54% perusahaan/organisasi bisnis di Indonesia pernah mengalami kebocoran informasi yang terekspos keluar perusahaan, dan 42% pernah mengalami kegagalan dalam memenuhi tuntutan regulasi yang berkaitan dengan informasi. Tantangan lain adalah besarnya duplikasi informasi yang disimpan perusahaan, rata-rata ada 35% data yang dobel.
Pemanfaatan penyimpanan juga tercatat cukup rendah, hanya 27% di dalam firewall seperti data center, dan 18% di luar firewall. Kata Goh, salah satu masalah utama yang diidentifikasikan oleh 54% perusahaan adalah information sprawl alias pertumbuhan informasi secara berlebihan yang tidak terorganisir, sulit diakses, dan sering terduplikasi di tempat lain.
"Dampaknya terhadap bisnis akibat hilangnya informasi bisa dibilang cukup fatal. 40% responden dari Indonesia mengaku kehilangan pelanggan, 47% pendapatannya menurun, 63% mengaku reputasi dan brand-nya hancurnya, dan 40% mengaku pengeluarannya bertambah," papar Goh.
Symantec sendiri merekomendasikan lima hal agar perusahaan di Indonesia bisa melindungi informasi bisnisnya secara lebih efektif. Fokus pada informasi, bukan pada perangkat atau pusat data. Memilah data yang lebih berguna bagi bisnis. Efisien agar tidak terjadi duplikasi. Konsistensi dalam kebijakan pengelolaan informasi. Serta tetap fleksibel untuk mendukung pertumbuhan.
(rou/fyk)