Β Β Β
Kemajauan teknologi yang tak ada batasnya menjadi latar belakang kekhawatiran para ahli tersebut. Mereka pun mewanti-wanti akan terjadinya 'cybergeddon'. Yakni suatu kondisi dimana semua sarana dan infrastruktur penting yang memanfaatkan perangkat komputer diacak-acak oleh cracker.
Dikutip detikINET dari Examiner, Senin (7/12/2009), Sekretaris Deputi untuk Keselamatan Masyarakat New York mendeskripsikan, layanan yang menjadi target empuk serangan cyber tersebut adalah institusi lembaga keuangan hingga sistem pasokan air bersih.
Computer hacking pada awalnya memang lebih dikenal di kalangan bawah tanah dunia maya 'hanya' sebagai kegiatan iseng-iseng. Hal itu biasanya dijadikan sebagai ajang unjuk kemampuan ketika menjebol suatu sistem komputer atau situs sebuah organisasi/perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang dilakukan para dedemit maya asal Rusia yang memporak-porandakan jaringan internet Estonia dan Georgia pada tahun lalu. Kemudian ada aksi simpatisan Palestina yang menggelar aksi simpatik dengan menyerang sejumlah situs Israel.
Nah, gerakan-gerakan inilah yang dikhawatirkan bakal berkembang menjadi aksi serangan cyber massal. Dimana para dedengkot hacker di setiap negara saling melancarkan serangan.
Juru bicara Global Terror Alert juga menyoroti soal adanya gerakan-gerakan jaringan teroris yang memanfaatkan situs jejaring sosial untuk merekrut anggota baru dan menyebarkan pemikiran-pemikiran radikalnya.
"Satu tempat kau hancurkan, maka akan ada lagi yang akan muncul di tempat lainnya." ujar juru bicara Global Terror Alert, menyoroti gesitnya situs-situs radikal tersebut.
(ash/faw)