Seperti dilaporkan media Wall Street Journal, seorang sumber intelijen senior menyatakan bahwa meski motif para cracker belum diketahui dan belum ada gangguan terjadi, aksi tersebut bisa membahayakan AS jika suatu saat terjadi perang.
"China telah mencoba memetakan infrastruktur kita seperti pada sistem listrik. Demikian halnya dengan Rusia," papar sumber tersebut yang dilansir United Press International dan dikutip detikINET, Kamis (9/4/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lama ini, dana US$ 100 juta pun digelontorkan demi memperkuat sistem pertahanan cyber negara adidaya itu. (fyk/fyk)