×
Ad

Drone WWF Beri Jawaban Mengapa Api Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 21 Okt 2026 16:00 WIB
Hasil video dari drone thermal Yayasan WWF Indonesia dapat menjadi alasan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan. Foto: WWF Indonesia
Jakarta -

Hasil video dari drone thermal Yayasan WWF Indonesia dapat menjadi alasan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan. Dari pemantauan di bentang alam SeKa (Sebangau-Katingan), secara kasat mata di permukaan, api tampak sudah padam dan hanya menyisakan asap tipis.

"Namun melalui kacamata drone thermal, terungkap fakta ilmiah yang mengkhawatirkan, di bawah permukaan masih menyimpan bara api. Fenomena ini dikenal secara ilmiah sebagai Smouldering Combustion (pembakaran tanpa lidah api)," terang WWF Indonesia di akun Facebook resmi mereka.

Berbeda dari tanah mineral, gambut terdegradasi yang mengering kaya akan bahan organik bernilai bakar tinggi. Api tidak hanya menjalar secara horizontal di permukaan, tetapi juga merayap secara vertikal ke dalam lapisan tanah berbentuk kantong-kantong asap tersembunyi (below ground).

Lebih lanjut, tanpa lidah api yang terlihat, asap putih tebal terus terlepas. Sementara itu, bara bawah tanah ini sewaktu-waktu bisa memicu kebakaran baru (re-ignition) saat terkena hembusan angin.

"Di sinilah inovasi teknologi Drone Thermal menjadi krusial dalam operasional pemadaman di lanskap SeKa. Sensor thermal membantu tim pemadam di lapangan melakukan assessment cepat dan menavigasi penyiraman air secara presisi dan memastikan api terpadamkan hingga ke titik bara terdalam di bawah tanah," kata WWF.

"Apresiasi sebesar-besarnya untuk seluruh lembaga, volunteer pemadam api, tim lapangan dan para penjaga benteng gambut yang tak kenal lelah bertaruh nyawa di garis depan. Semoga selalu diberikan keselamatan dan kesehatan, karena setiap lelah adalah napas bagi kita semua," harapnya.


Dikutip dari situs Institut Pertanian Bogor (IPB), dijelaskan bahwa karhutla di lahan gambut Kalimantan bukan sekadar soal menghentikan kobaran api. Bara dapat bertahan dan terus menjalar, membuat api sulit benar-benar ditaklukkan.

"Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan," jelas Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo.

Bara berpotensi kembali memicu kebakaran terutama ketika hujan tak kunjung turun dan kondisi gambut tetap kering. Selain itu, tantangan dari keterbatasan sumber daya pendukung juga menjadi perhatian. Ketersediaan air yang minim menjadi salah satu kendala karena muka air telah turun hingga kedalaman tertentu sehingga sulit dimanfaatkan untuk proses pemadaman.

Penurunan muka air tersebut, membuat gambut semakin kering dan sensitif terhadap kebakaran.

Prof Bambang menambahkan fenomena El Nino dan kekeringan turut serta mempercepat proses pengeringan.

"Sumber air lain seperti sumur bor menjadi tidak berfungsi, begitu juga kanal-kanal yang sudah dibangun, tetapi air yang tersedia sangat terbatas," ujar Prof Bambang.

Di sisi lain, sistem peringatan dini (early warning) dan deteksi dini (early detection) yang belum optimal membuat potensi kebakaran terlambat diketahui. Karena itu, Prof Bambang menilai penegakan hukum yang tegas juga diperlukan untuk mendorong kepatuhan dan mencegah pembakaran yang berulang.

Prof Bambang menyebut soal Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2014, di mana pemerintah menetapkan batas tinggi muka air gambut 40 cm. Hal tersebut agar kondisi permukaan tetap lembap.

"Pemantauan tinggi muka air agar tetap kurang dari 40 cm, penguatan sistem peringatan dan deteksi dini, serta prioritas pada kegiatan pencegahan harus dilakukan secara konsisten," tuturnya.

Untuk mencegah kejadian berulang, Prof Bambang menekankan agar seluruh pihak mematuhi regulasi pemanfaatan gambut, termasuk ketentuan ketebalan gambut yang dapat dimanfaatkan kurang dari tiga meter.

"Pencegahan harus menjadi prioritas utama dengan menjaga gambut tetap basah, memperkuat deteksi dini, dan memastikan seluruh pihak terlibat dalam pengelolaan gambut secara berkelanjutan," pungkasnya.



Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"

(ask/ask)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork