Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Penyelamatan Dramatis Anak Walrus Sebatang Kara di Pantai Terpencil Alaska

Penyelamatan Dramatis Anak Walrus Sebatang Kara di Pantai Terpencil Alaska


Fino Yurio Kristo - detikInet

Traveler pernah nyasar gara-gara ketiduran saat naik kendaraan? Hal ini juga dirasakan oleh walrus yang bisa sampai ke Irlandia
Walrus. Foto: (Paul Solders/Getty Images)
Jakarta -

Sebuah situasi pelik dialami oleh seekor anak walrus Pasifik (subspesies Odobenus rosmarus) yatim piatu ketika dua orang peneliti menemukannya di sebuah pulau di wilayah Point Lay, Alaska.

Ahli biologi walrus dari Survei Geologi AS (USGS), Tony Fischbach, bersama mahasiswa Ilisagvik College yang juga warga lokal, Violet Anniskett, tak sengaja menemukan walrus jantan muda tersebut saat menyelidiki bangkai walrus di pantai terpencil itu. Mereka menemukannya sebatang kara di antara jasad dua walrus dewasa, kejadian yang baru pertama kali dialami Fischbach selama pengalaman panjang meneliti kawanan walrus di sana.

Mereka kemudian meminta izin dari komunitas Inupiaq setempat dan U.S. Fish and Wildlife Service untuk merehabilitasi walrus tersebut. Setelah persetujuan dikantongi, rintangan berikutnya adalah membawa mamalia laut itu ke Alaska SeaLife Center.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pusat penangkaran tersebut merupakan satu-satunya fasilitas rehabilitasi mamalia laut di Alaska dan jaraknya sekitar 1.287 km dari lokasi mereka. Seakan belum cukup sulit, badai membuat Anniskett, Fischbach, dan sang walrus terjebak di pulau tersebut berhari-hari. Sembari menunggu, mereka menggiring anak walrus itu ke sebuah bangunan terbengkalai agar terlindung dari predator.

Anak walrus itu akhirnya berhasil dibawa ke bandara setempat dan tiba di Alaska SeaLife Center pada 14 September menggunakan pesawat terbang dan mobil. Bayi seberat sekitar 90 kg itu tiba dalam keadaan dehidrasi, namun kondisinya secara umum cukup baik. Petugas mengobati beberapa luka luarnya, memberi cairan, dan perawatan lainnya.

ADVERTISEMENT

Namun, perjalanan anak walrus tersebut belum usai. Anak walrus Pasifik yang yatim piatu merupakan salah satu pasien yang paling butuh penanganan khusus dalam proses rehabilitasi mamalia laut. Itu karena di alam liar, anak walrus sangat bergantung pada induknya dan biasanya hidup berdampingan satu hingga dua tahun.

Kontak fisik erat, baik dengan induk maupun kawanannya, merupakan elemen krusial pada awal kehidupan anak walrus. Dalam kasus anak walrus sebatang kara, manusia dapat jadi induk pengganti, namun tugas pengasuhan sangat berat. Seseorang harus ada tiap saat untuk kontak fisik, interaksi sosial, makan, serta perawatan medis yang diperlukan.

"Merawat anak walrus sebatang kara benar-benar merupakan kerja sama tim dan membutuhkan komitmen 24 jam penuh," ungkap Jane Belovarac dari Alaska SeaLife Center yang dikutip detikINET dari Popular Mechanic.

"Setidaknya ada dua staf yang bekerja bergantian sepanjang waktu untuk menemani dan memberikan perawatan yang ia butuhkan. Ini berarti hari-hari yang panjang dengan jadwal tidur yang tak menentu bagi tim kami," imbuhnya.

Kondisi tersebut juga membuat anak walrus ini menjadi terbiasa berinteraksi dengan manusia sehingga tidak dapat dilepasliarkan kembali ke alam bebas. Kini, di rumah permanen barunya, ia akan bertindak sebagai duta bagi spesiesnya untuk mengedukasi masyarakat mengenai walrus Pasifik.



(fyk/fyk)
TAGS




Hide Ads