Bagi warga yang tinggal di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menutup pintu dan jendela serta menyalakan AC atau pembersih udara belum tentu membuat rumah sepenuhnya aman dari asap. Partikel polusi berukuran sangat kecil dapat menyusup melalui celah bangunan dan ventilasi, bahkan ketika penghuni berusaha membatasi udara dari luar.
Kondisi ini menjadi persoalannnyata di Kalimantan. Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan dan masih terjadi hingga kini, menghasilkan kabut asap tebal, mengganggu aktivitas masyarakat dan kesehatan anak-anak.
Mengutip laporan Associated Press (9/10), warga Kalimantan Barat masih menghadapi asap pekat setelah kebakaran berlangsung lebih dari tiga bulan. Dampaknya juga menjalar ke negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.
Laporan tersebut menggambarkan bagaimana asap tetap masuk ke rumah warga meskipun mereka sudah menutup celah pintu dan menggunakan pembersih udara. Situasi ini menunjukkan bahwa paparan asap bukan semata-mata persoalan orang yang beraktivitas di luar ruangan.
Gambaran ilmiahnya terlihat dalam penelitian 'Wildfire smoke indoors: A review of infiltration risk factors and exposure mitigation strategies' yang mengukur paparan PM2.5 di Kalimantan Tengah selama kebakaran 2023.
Para peneliti, Nathan Bolden, Kiernan Kilkenny, dan Nordica MacCarty, dari Oregon State University, Oregon, Amerika Serikat, memasang 13 sensor di sejumlah lokasi perkotaan dan perdesaan untuk mengukur konsentrasi partikel di dalam maupun di luar rumah.
Hasilnya, rata-rata konsentrasi PM2.5 di luar ruangan selama periode pengamatan mencapai 136 mikrogram per meter kubik. Kebakaran menyumbang sekitar 90 mikrogram per meter kubik dari konsentrasi tersebut.
Temuan yang paling mengkhawatirkan adalah rasio median konsentrasi PM2.5 di dalam dan luar rumah di wilayah perdesaan mencapai 1,01. Artinya, konsentrasi di dalam rumah dalam pengamatan tersebut hampir sama dengan di luar. Peneliti menulis bahwa rasio tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan selama kebakaran hutan di wilayah lain di dunia, seperti Amerika Serikat.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Atmosphere pada 2024 itu memperkirakan sekitar 1,62 juta orang di Kalimantan Tengah terpapar kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya selama musim kering yang diteliti.
Asap Menembus Rumah
PM2.5 adalah partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya memungkinkan partikel terbawa aliran udara dan masuk ke bangunan melalui celah pintu, jendela, sambungan bangunan, atau ventilasi.
Rumah yang memiliki banyak bukaan alami dapat memberikan sedikit perlindungan ketika udara di luar sangat tercemar. Ketika konsentrasi PM2.5 di luar melonjak, partikel yang masuk dapat membuat udara dalam rumah ikut tercemar.
AC juga tidak otomatis menyelesaikan masalah. Banyak AC rumah hanya mendinginkan dan mengedarkan kembali udara dalam ruangan, bukan menyaring seluruh PM2.5 yang masuk dari luar. Kemampuan pembersih udara pun bergantung pada jenis filter, kapasitas alat terhadap luas ruangan, dan kondisi udara yang harus dibersihkan.
Karena itu, rumah dengan AC dan pembersih udara sekalipun belum tentu mampu mempertahankan kualitas udara yang baik ketika asap di luar sangat pekat. Ini bukan berarti perangkat tersebut tidak berguna, melainkan perlindungannya memiliki batas.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa persoalan paparan asap di Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat tetap berada di dalam rumah. Peneliti menilai perbaikan desain bangunan agar lebih mampu membatasi masuknya polusi perlu berjalan bersama upaya menekan kebakaran gambut sebagai sumber utama asap.
Selama kebakaran masih berlangsung, udara tercemar dapat terus masuk ke ruang yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Dengan demikian, persoalan kesehatan akibat karhutla bukan hanya soal seberapa jauh seseorang tinggal dari titik api, melainkan juga seberapa besar paparan polusi yang akhirnya masuk ke rumahnya.
Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: Gempa M 7 NTT-Kebakaran Hutan di Kalimantan"
(rns/rns)