Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Studi: Asap Kebakaran Hutan Tak Cuma Serang Paru-paru

Studi: Asap Kebakaran Hutan Tak Cuma Serang Paru-paru


Rachmatunnisa - detikInet

Rudiyansah, 16, wears a Superman costume while extinguishing a fire at a wildfire-affected area in Palangka Raya, Central Kalimantan province, Indonesia, August 14, 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan tidak hanya memunculkan persoalan jarak pandang dan kualitas udara. Asap yang dihasilkan kebakaran juga membawa campuran polutan yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.

Kondisi ini menjadi perhatian di tengah karhutla yang masih terjadi di Kalimantan. Pemerintah sebelumnya mencatat peningkatan hotspot di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, disertai laporan kabut asap dan jarak pandang yang terbatas.

Dikutip dari ScienceAlert, penelitian menunjukkan dampak asap kebakaran tidak berhenti pada sistem pernapasan. Partikel halus dalam asap dapat masuk jauh ke paru-paru, kemudian sebagian partikelnya dapat berpindah ke aliran darah dan memengaruhi organ lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asap kebakaran mengandung campuran berbagai polutan, termasuk PM2.5, nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrokarbon aromatik, dan logam berat seperti timbal. Komposisinya dapat berubah tergantung material yang terbakar.

PM2.5 menjadi salah satu perhatian utama karena ukurannya sangat kecil. Partikel ini dapat terhirup hingga bagian dalam paru-paru. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian partikel dapat menembus dari paru-paru menuju aliran darah. Artinya, dampaknya tidak harus berhenti pada organ pernapasan.

ADVERTISEMENT

"Asap kebakaran bukan hanya bahaya langsung bagi pernapasan," kata Yang Liu, ilmuwan kesehatan lingkungan dari Emory University, di Atlanta, Amerika Serikat (AS).

"Seluruh tubuh terdampak. Asap kebakaran menyebabkan stres oksidatif pada tubuh dan memperburuk atau mempercepat perkembangan penyakit," tambahnya.

Jantung, Pembuluh Darah Ikut Terdampak

Salah satu dampak yang mendapat perhatian peneliti adalah sistem kardiovaskular. Penelitian yang dipublikasikan di European Heart Journal menemukan paparan kronis PM2.5 dari asap kebakaran berkaitan dengan peningkatan risiko stroke pada orang lanjut usia. Penelitian lain juga menunjukkan peningkatan kasus serangan jantung dan gangguan kardiovaskular setelah paparan asap.

Masalahnya bukan hanya ketika seseorang berada tepat di dekat lokasi kebakaran. Asap dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer dari sumbernya. Aubrey Miller, pakar bencana lingkungan dari National Institutes of Health, AS, menjelaskan bahwa material yang terbakar juga menentukan jenis bahaya yang terkandung dalam asap.

"Pikirkan apa yang terbakar, plastik, logam berat, arsenik. Semua itu dapat menimbulkan serangkaian bahaya lain bagi masyarakat," ujarnya.

Dalam konteks Kalimantan, kondisi tersebut menjadi penting karena sebaran asap tidak selalu mengikuti batas administratif wilayah kebakaran. Asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan memengaruhi kawasan yang jauh dari sumber api.

Bahkan, kabut asap dari karhutla Kalimantan saat ini telah berdampak hingga Sarawak, Malaysia. Pemerintah setempat melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Otak Juga Bisa Terpengaruh

Dampak asap kebakaran ternyata tidak hanya berkaitan dengan paru-paru dan jantung. Penelitian juga menemukan indikasi bahwa paparan asap dapat berhubungan dengan gangguan kognitif. Ada pula penelitian yang menemukan kaitan antara paparan PM2.5 dan depresi.

Mekanismenya masih terus diteliti. Salah satu perhatian ilmuwan adalah stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas dalam tubuh meningkat dan mengganggu keseimbangan sel. Proses peradangan yang dipicu polutan juga diduga berperan dalam berbagai gangguan kesehatan.

Karena itu, dampak asap tidak selalu langsung terasa sebagai sesak napas. Beberapa orang dapat mengalami batuk, dada terasa sesak, sakit tenggorokan, sakit kepala, hingga brain fog yang dapat bertahan setelah kabut asap berlalu.

Ibu Hamil dan Anak Kelompok Rentan

Ibu hamil dan anak-anak juga menjadi perhatian terkait paparan asap. Penelitian yang mengaitkan paparan asap kebakaran selama kehamilan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.

Paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan sejumlah penyakit kronis dan beberapa jenis kanker. Kelompok rentan lainnya mencakup anak-anak, lansia, penderita asma, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Marshall Burke, ekonom lingkungan dari Stanford University, mengatakan cakupan kelompok yang rentan terhadap paparan asap ternyata lebih luas dari perkiraan sebelumnya.

"Ini mencakup ibu hamil, anak-anak di sekolah, siapa pun yang menderita asma, serta orang dengan kanker," ujarnya.

Temuan tersebut penting untuk melihat karhutla bukan semata sebagai persoalan lingkungan. Kabut asap merupakan persoalan kesehatan masyarakat karena paparan dapat terjadi bahkan ketika seseorang tidak berada di lokasi kebakaran.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah belum ditemukannya ambang batas yang benar-benar aman untuk paparan asap kebakaran dalam jangka panjang.

"Hasil penelitian kami juga menunjukkan bahwa tidak ada ambang batas aman yang terlihat untuk paparan asap," kata Liu.

Ia menambahkan bahwa paparan berulang dalam tingkat sedang pun berpotensi berdampak, bukan hanya episode asap ekstrem. Beban kesehatan dari asap kebakaran dapat sangat besar. Salah satu studi yang diterbitkan di Nature memperkirakan sekitar 1,9 juta kematian berlebih akibat PM2.5 dari asap kebakaran dapat terjadi di Amerika Serikat selama periode 2026-2055 dalam skenario yang diteliti.

Angka tersebut memang merupakan proyeksi untuk Amerika Serikat dan tidak bisa langsung diterapkan pada kondisi Kalimantan. Namun, penelitian tersebut menunjukkan skala risiko kesehatan yang dapat muncul ketika paparan asap kebakaran berlangsung luas dan berulang.



(rns/rns)




Hide Ads