×
Ad

Karhutla Kalimantan Picu Asap Lintas Negara, Ini Penyebabnya

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 12 Okt 2026 13:15 WIB
Bantuan oksigen untuk warga terdampak kabut asap di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tak hanya berdampak pada wilayah yang terbakar. Kabut asapnya terbawa angin hingga melintasi perbatasan dan mengganggu kualitas udara negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.

Situasi ini masih menjadi perhatian pada Oktober 2026, bahkan makin parah dan meluas hingga mengancam pemukiman warga. Kementerian Kehutanan mencatat 793 titik panas berkepercayaan tinggi di Indonesia hingga 10 Oktober pukul 21.00 WIB. Dari jumlah tersebut, Kalimantan Tengah mencatat 288 titik, Kalimantan Barat 44 titik, dan Kalimantan Selatan 28 titik.

Sementara itu, Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) melaporkan pada 11 Oktober bahwa asap dari Sumatra bagian selatan dan Kalimantan Barat terpantau bergerak menuju Singapura. Indeks Standar Polutan atau PSI 24 jam di negara tersebut berada pada rentang 112-155, yang masuk kategori tidak sehat.

NEA memperkirakan asap masih dapat bergerak menuju Singapura karena angin bertiup dari tenggara atau selatan, sementara kondisi kering diperkirakan berlanjut di sebagian wilayah Sumatra selatan dan Kalimantan

Asap Menyeberangi Negara

Secara ilmiah, asap kebakaran merupakan campuran gas dan partikel hasil pembakaran vegetasi serta material organik. Sebagian partikelnya berukuran sangat kecil, termasuk PM2.5, yang dapat bertahan di udara dan terbawa angin jauh dari sumber kebakaran.

Arah angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak. Ketika angin bertiup dari daerah kebakaran menuju wilayah lain, partikel asap dapat ikut bergerak melintasi laut dan perbatasan negara. Karena itu, dampak asap tidak selalu berhenti di sekitar hutan yang terbakar.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, sebelumnya pada Agustus lalu menjelaskan bahwa pola sebaran asap di Kalimantan Timur dapat bergerak menuju Kalimantan Utara hingga Sabah, Malaysia.

"Sebaran asap karhutla umumnya bergerak ke arah barat laut menuju timur laut hingga melewati batas administratif ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia," kata Budi dalam keterangan BMKG (25/8).

Pergerakan tersebut tidak selalu sama setiap hari. Arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta lokasi kebakaran menentukan ke mana asap bergerak dan seberapa jauh penyebarannya.

Kondisi kering memperburuk situasi karena vegetasi dan lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar. Di lahan gambut, bara bahkan dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun api di atasnya tidak lagi terlihat. Akibatnya, kebakaran bisa berulang dan terus menghasilkan asap.

Dalam pembaruan 11 Oktober, ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) memperkirakan kondisi kering masih berlanjut di sejumlah wilayah selatan ASEAN. Angin dari tenggara hingga selatan juga membuat risiko kabut asap lintas negara tetap perlu diwaspadai.

Hujan dapat membantu mengurangi partikel di atmosfer melalui proses pencucian oleh air hujan. Namun, jika kebakaran masih berlangsung dan sumber asap terus menghasilkan emisi, kualitas udara dapat kembali memburuk setelahnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kabut asap lintas negara bukan sekadar persoalan jarak geografis. Selama sumber kebakaran belum terkendali, kombinasi lahan yang kering dan pola angin dapat membawa dampaknya ke wilayah lain.

Karena itu, pemadaman karhutla dan pemantauan kualitas udara perlu dilakukan bersamaan. Bagi masyarakat di wilayah terdampak, informasi konsentrasi PM2.5 dan imbauan otoritas setempat menjadi acuan penting untuk membatasi aktivitas luar ruang ketika kualitas udara memburuk.



Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"

(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork