Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Afrika Perlahan Terbelah, Lautan Baru Bisa Muncul Jutaan Tahun Lagi

Afrika Perlahan Terbelah, Lautan Baru Bisa Muncul Jutaan Tahun Lagi


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi Gempa
Foto: Getty Images/iStockphoto/SteveCollender
Jakarta -

Benua Afrika ternyata sedang perlahan-lahan terbelah. Proses ini memang tidak akan terjadi dalam waktu dekat bagi manusia, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bagian Afrika Timur sudah memasuki tahap penting menuju perpecahan benua.

Jika proses tersebut terus berlangsung, jutaan tahun dari sekarang sebuah lautan baru dapat terbentuk di antara dua bagian Afrika. Temuan ini berasal dari penelitian terhadap Turkana Rift, zona retakan sepanjang sekitar 500 kilometer yang membentang di Kenya dan Ethiopia. Wilayah tersebut merupakan bagian dari East African Rift System, tempat lempeng tektonik bergerak saling menjauh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para ilmuwan menganalisis data seismik untuk mengetahui struktur bawah permukaan Turkana Rift. Hasilnya mengejutkan, mengingat kerak Bumi di bagian tengah retakan ternyata hanya memiliki ketebalan sekitar 13 kilometer. Sebagai perbandingan, kerak di bagian tepi wilayah retakan memiliki ketebalan lebih dari 35 kilometer.

ADVERTISEMENT

Ketika kerak benua di zona retakan menipis hingga sekitar 15 kilometer, wilayah tersebut dianggap telah memasuki tahap yang disebut necking. Pada tahap ini, deformasi semakin terkonsentrasi di sepanjang sumbu retakan. Kerak yang semakin tipis juga menjadi semakin lemah, sehingga proses pemisahan dapat terus berlangsung.

"Kami menemukan bahwa proses retakan di zona ini lebih maju, dan keraknya lebih tipis, daripada yang selama ini diketahui," kata Christian Rowan, geosaintis dari Columbia University sekaligus salah satu peneliti, dikutip dari Science Alert, Minggu (20/9/2026).

"Afrika Timur telah mengalami kemajuan lebih jauh dalam proses retakan dibandingkan perkiraan sebelumnya," imbuhnya.

Penelitian tersebut memperkirakan fase necking di Turkana Rift mulai sekitar 4 juta tahun lalu. Artinya, proses pemisahan benua di wilayah tersebut bukan fenomena baru, melainkan proses geologi yang sudah berlangsung sangat lama.

Ketika dua bagian kerak terus bergerak menjauh, kerak benua akan semakin meregang dan menipis. Pada tahap berikutnya, magma dari bawah permukaan dapat naik melalui bagian kerak yang semakin tipis.

Magma yang mencapai permukaan kemudian mendingin dan membentuk batuan baru. Dalam jangka sangat panjang, proses tersebut dapat menghasilkan kerak samudra. Tahap inilah yang disebut oceanization, ketika retakan benua berkembang menjadi cekungan laut.

Jika proses tersebut berlanjut selama jutaan tahun, air laut dari wilayah sekitarnya pada akhirnya dapat masuk ke cekungan baru tersebut. Dengan demikian, terbentuklah lautan baru yang memisahkan bagian timur Afrika dari bagian benua lainnya.

Namun, jangan membayangkan Afrika akan terbelah dalam beberapa tahun atau abad. Para ilmuwan memperkirakan proses tersebut masih membutuhkan beberapa juta tahun. Jadi, ini adalah perubahan yang sangat lambat jika dilihat dari skala kehidupan manusia, tetapi relatif cepat dalam sejarah geologi Bumi.

Ada bagian lain dari temuan ini yang tidak kalah menarik. Turkana Rift selama ini terkenal sebagai salah satu kawasan penting dalam penelitian evolusi manusia karena banyak ditemukan fosil hominin, termasuk fosil manusia purba.

Penelitian terbaru memberikan kemungkinan penjelasan mengapa begitu banyak fosil dapat ditemukan di kawasan tersebut. Ketika proses necking dimulai sekitar 4 juta tahun lalu, perubahan tektonik membuat sedimentasi di kawasan Turkana meningkat. Lapisan sedimen yang tebal kemudian dapat mengubur dan mengawetkan sisa-sisa makhluk hidup.

"Kesesuaian waktu antara perubahan tektonik ini dan munculnya lapisan tebal yang terus-menerus mengandung fosil menunjukkan bahwa fase necking menyediakan kondisi penting bagi pelestarian fosil," tulis para peneliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Dengan kata lain, banyaknya fosil manusia purba di Turkana mungkin tidak semata-mata karena kawasan tersebut merupakan tempat yang sangat istimewa bagi kehidupan manusia purba. Proses geologi yang perlahan merobek Afrika justru mungkin menciptakan kondisi yang sangat baik untuk mengawetkan jejak kehidupan masa lalu.



(rns/hps)




Hide Ads