Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Anak Krakatau Tumbuh Lagi, Kini Berbeda dari Sebelum Tsunami 2018

Anak Krakatau Tumbuh Lagi, Kini Berbeda dari Sebelum Tsunami 2018


Rachmatunnisa - detikInet

Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau. Foto: Istimewa/Pemprov Lampung
Jakarta -

Anak Krakatau kembali tumbuh setelah sebagian tubuh gunung api itu runtuh pada 2018 dan memicu tsunami. Namun, ilmuwan mengingatkan bahwa Anak Krakatau yang sekarang bukan lagi gunung api yang sama dengan sebelum peristiwa tersebut.

Hal ini terlihat dari perubahan bentuk tubuh gunung api serta pola pertumbuhannya setelah keruntuhan. Dalam webinar 'Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau: Sistem Magmatik, Sejarah Evolusi, dan Pemantauan Tsunami Real-time', Profesor Sebastian Watt dari University of Birmingham mengatakan, pada 2023 tubuh Anak Krakatau masih lebih rendah dibandingkan kerucut gunung sebelum runtuh pada 2018. Di sisi lain, diameternya kini justru lebih lebar.

"Kita bisa lihat, pulaunya (Anak Krakatau) lebih lebar dibandingkan sebelumnya," kata Watt dalam pemaparannya, Senin (14/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Artinya, Anak Krakatau tidak sekadar kembali membangun tubuhnya dalam bentuk yang sama seperti sebelum 2018. Struktur baru terbentuk melalui proses pertumbuhan setelah sebagian edafiknya runtuh. Edafik adalah hal-hal yang berkaitan dengan kondisi tanah yang memengaruhi pertumbuhan makhluk hidup, terutama tumbuhan serta hewan.

Watt menegaskan perubahan tersebut penting diperhatikan ketika ilmuwan menilai aktivitas Anak Krakatau saat ini maupun di masa depan.
"Bentuk gunung api yang baru, gunung api pasca-2018, tak lagi sama dengan gunung api sebelum 2018," sebutnya.

Tumbuh Kembali Setelah Runtuh

Sebelum 2018, Anak Krakatau mengalami pertumbuhan selama puluhan tahun. Data peta dan model elevasi digital menunjukkan material vulkanik semakin menumpuk, terutama di sisi barat daya.

Namun, keruntuhan 2018 mengubah pola tersebut secara drastis. Setelah peristiwa itu, Anak Krakatau kembali membangun tubuhnya dengan sangat cepat. Watt mengatakan, setelah keruntuhan terjadi lonjakan besar laju erupsi, meski kemudian kecepatannya mulai melambat.

"Keruntuhan tersebut membalikkan kondisi itu secara drastis. Kami melihat laju erupsi yang sangat tinggi setelah keruntuhan, dan kemudian tampaknya melambat. Namun, kita masih berada pada tahap awal periode tersebut, sehingga penting untuk terus memantau laju tersebut untuk memahami bagaimana perkembangannya di masa depan," urainya.

Pertumbuhan kembali ini membuat pemantauan terhadap bentuk gunung api menjadi penting. Peneliti tidak hanya melihat seberapa besar Anak Krakatau sekarang, tetapi juga bagaimana material kembali terakumulasi dan bagaimana struktur gunung berkembang.

Watt mengatakan sejarah pertumbuhan sebelum 2018 dapat menjadi petunjuk untuk memahami aktivitas setelahnya. Namun, karena struktur Anak Krakatau sudah berubah, kondisi sebelum keruntuhan tidak bisa digunakan begitu saja untuk menggambarkan kondisi saat ini.

"Jika kita memahami kondisi (Anak Krakatau) sebelum 2018, itu adalah petunjuk penting untuk memperkirakan aktivitas gunung di masa depan," sebutnya.

Karena itu, ilmuwan terus melacak pertumbuhan Anak Krakatau. Menurut Watt, sejarah perkembangan gunung api tersebut memberikan konteks penting untuk menilai aktivitasnya sekarang dan memahami bagaimana pertumbuhannya dapat berlangsung ke depan.

Simak juga Video 'Erupsi Sudah Berlalu, Kenapa Mata Masih Merah?':

(rns/afr)




Hide Ads