×
Ad

Planet Terdekat dari Matahari Menyusut Jauh Lebih Besar dari Dugaan

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 11 Sep 2026 12:45 WIB
Palnet Merkurius. Foto: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegie Institution of Washington via Getty Images
Jakarta -

Kerutan-kerutan menutupi Merkurius, planet terdekat dengan Matahari, menunjukkan planet tersebut dulu berukuran lebih besar dan kini menyusut. Penyusutannya mungkin lebih besar dari perkiraan.

Menurut NASA, planet terkecil Tata Surya ini berjarak rata-rata sekitar 58 juta kilometer dari Matahari dan menyelesaikan satu kali orbit mengelilinginya setiap 88 hari.

Planet ini terbentuk dari pusaran gas dan debu sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Masa awal Tata Surya dipenuhi kekacauan, banyak batuan luar angkasa yang mengorbit Matahari saling bertabrakan dengan objek lain.

Planet yang baru terbentuk suhunya teramat panas, tapi energi dari tabrakan-tabrakan tersebut menghasilkan panas jauh lebih besar. Seiring waktu, ketika panas terlepas dari planet-planet ini, bagian dalam planet seperti Merkurius pun menyusut.

Permukaan Merkurius yang retak-retak menyimpan 'luka' akibat penyusutan tersebut. Namun asteroid dan komet juga membombardir Merkurius, sehingga penuh dengan kawah tumbukan, mirip permukaan Bulan.

Puing berbagai tumbukan tersebut mungkin menyembunyikan seberapa besar penyusutan Merkurius selama ini, menurut studi baru di jurnal Geophysical Research Letters.

Memahami tingkat penyusutan Merkurius dapat memberikan pencerahan mengenai evolusinya, sekaligus mengungkap rahasia bagian dalamnya yang misterius.

Studi baru ini juga menyoroti banyaknya pertanyaan mengenai planet ini. Beberapa di antaranya mungkin terjawab melalui misi bersejarah dua pesawat pengorbit yang akan mengelilingi Merkurius November mendatang.

Planet yang Menyusut

Kedekatan Merkurius dengan Matahari menjadikannya menantang untuk dipelajari. Hanya ada dua misi yang pernah menjelajahinya yaitu Mariner 10 milik NASA di 1974 dan misi MESSENGER tahun 2011.

Mariner 10 mengungkap kerutan-kerutan Merkurius yang menarik, sementara MESSENGER memberikan gambaran lebih menyeluruh tentang fitur planet tersebut.

Gaku Nishiyama, ilmuwan di German Aerospace Center's Institute of Space Research dan timnya menggunakan data MESSENGER untuk membuat peta tingkat kekasaran permukaan Merkurius.

Mereka memperkirakan berapa banyak kerutan yang mungkin tersebar di permukaan Merkurius seandainya tak tersembunyi puing. Perhitungan tersebut menyimpulkan Merkurius mungkin menyusut 10% hingga 30% lebih besar dari yang diyakini sebelumnya atau terjadi perubahan jari-jari sekitar 11,6 kilometer.

Studi-studi terdahulu hanya memperkirakan perubahan jari-jari pada rentang 1 hingga 2 kilometer dan paling besar mencapai 7 kilometer.

Merkurius adalah planet terpadat kedua di Tata Surya setelah Bumi, terutama karena inti logamnya berukuran besar.

Menghitung seberapa jauh planet ini menyusut bisa memberikan gambaran mengenai inti Merkurius dan apa yang telah terjadi dalam planet tersebut ketika ia mendingin.

Mengamati Merkurius Lebih Dekat

Misi BepiColombo, yang baru-baru ini mulai memasuki kawasan Merkurius setelah melakukan perjalanan hampir delapan tahun, akan menempatkan dua pesawat pengorbit di dekat planet tersebut pada akhir tahun ini.

Data topografi yang dikumpulkan misi ini memungkinkan ilmuwan memperkirakan presisi seberapa banyak penyusutan Merkurius seiring waktu, sekaligus memperlihatkan tebing, kawah, dan punggung bukit planet tersebut dengan kejelasan yang belum pernah ada.

BepiColombo akan melakukan pengukuran komprehensif pertama kalinya terhadap sifat topografi Merkurius, sesuatu yang tidak bisa dilakukan MESSENGER.

Sementara MESSENGER berhasil mengumpulkan data resolusi tinggi di belahan utara Merkurius, Mercury Planetary Orbiter milik BepiColombo akan mengukur topografi dan kekasaran permukaan seluruh belahan selatan.

"Instrumen wahana tersebut akan mendeteksi anomali gravitasi, memperbaiki perkiraan ketebalan kerak dan struktur internalnya, serta mendeteksi komposisi elemen maupun mineral di permukaannya," papar Dr. Kelsey Crane, ahli geologi di Seres Engineering and Services.

"Semua jenis data saling melengkapi, membantu ilmuwan menceritakan evolusi planet secara utuh dan memicu pertanyaan-pertanyaan baru untuk dijawab misi di masa depan," imbuhnya.

Merkurius kemungkinan menyusut lebih banyak daripada planet lain karena ukuran intinya jauh lebih besar secara relatif terhadap ukuran utuh planetnya, dibandingkan dengan dunia berbatu lainnya di Tata Surya kita.



Simak Video "Kamera HP, Tapi Hasilnya Nggak Kaleng-Kaleng"

(fyk/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork