Tiga belas hari setelah banjir dahsyat mengubur utara Nepal di bawah lumpur, bebatuan, dan puing, pakar penyelamatan asal Australia Arnold Dix yang dijuluki Tunnel Man (Manusia Terowongan) terus menggali untuk mencari tanda kehidupan di bawah tanah.
"Ini benar-benar berbeda dari operasi penyelamatan mana pun yang pernah saya ketahui dalam sejarah dunia," ungkap Dix ke kantor berita EFE yang dikutip detikINET.
Ia mengatakan sebagian besar struktur terowongan masih utuh. "Terowongan-terowongan itu dalam kondisi baik, tapi dipenuhi batu, lumpur, dan air," sebutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan pekerja dilaporkan hilang di lebih dari selusin terowongan PLTA di sepanjang sungai Bhotekoshi usai terjangan banjir. Dix menyatakan manusia bisa bertahan hidup di bawah tanah jauh lebih lama dari yang diperkirakan.
"Terowongan adalah lingkungan yang dirancang khusus, terlindung dari cuaca, suhunya relatif stabil, dan berpotensi mampu mengawetkan udara untuk bernapas serta menjadi tempat berlindung setelah semua yang ada di atasnya hancur," tulisnya di LinkedIn.
Banjir bandang 26 Agustus tersebut menghancurkan jalan-jalan yang mengarah ke beberapa PLTA sehingga sangat mempersulit upaya penyelamatan. "Kami tak memiliki akses karena jalan-jalannya hancur berantakan. Jadi ini seperti kesulitan berlapis-lapis," kata Dix.
Selama minggu pertama operasi penyelamatan, Dix berfokus pada identifikasi ruang-ruang bawah tanah yang mampu menopang kehidupan.
"Ada kantong-kantong ruang bawah tanah di mana orang-orang masih memiliki cukup udara, air, dan bahkan mungkin memiliki sedikit makanan, tidak banyak, tapi ada. Jadi secara teknis mereka bisa bertahan hidup," paparnya.
Penilaiannya tersebut tampaknya terbukti benar Jumat lalu, ketika dua pekerja dari PLTA Trishuli 3A diselamatkan setelah sembilan hari terjebak di bawah tanah.
Kini, Dix bekerja di fasilitas PLTA lain dekat perbatasan China, di mana tim penyelamat masih belum mengetahui apakah ada yang selamat di pembangkit listrik yang sudah lenyap tersebut.
"Tidak ada apa-apa lagi di permukaan, tapi kita tahu bahwa di bawah tanah ada ruang besar tempat turbin dan peralatan lain berada yang masih bisa menopang kehidupan," lanjutnya.
Menggali Menembus Kemustahilan
Strategi penyelamatan prinsipnya sangat sederhana, meski praktiknya luar biasa sulit. "Kami tidak perlu melakukan hal aneh-aneh. Yang harus kami lakukan hanyalah menggali," sebut Dix.
Tim penyelamat merangsek maju melalui lorong sempit yang lebarnya nyaris hanya cukup untuk satu orang, digali berdampingan dengan atap asli terowongan. Mereka berharap dapat menembus dan mencapai rongga berisi udara di balik tumpukan lumpur dan puing.
Dix percaya rintangan terbesarnya bukanlah persoalan teknik, melainkan pesimisme.
"Manusia memiliki kemampuan bertahan hidup yang sangat luar biasa. Dan kita tahu bahwa orang-orang yang terjebak, jika mereka masih hidup, mereka pasti ingin terus hidup. Dan itulah hal yang paling penting," imbuh Dix.
Penyelamat veteran ini mengenang operasi Silkyara di India tahun 2023, ketika 41 pekerja diselamatkan hidup-hidup setelah 17 hari di bawah tanah.
"Pekerjaan saya mewujudkan keajaiban. Sejarah menunjukkan dari waktu ke waktu, ketika orang berniat keras mencapai apa yang tampaknya mustahil, itu tak lagi mustahil," cetusnya.
Dix sengaja tidak berbicara dengan dua pria yang berhasil diselamatkan dari Trishuli 3A karena mereka berhak mendapatkan privasi setelah trauma tak terbayangkan.
"Hal terakhir yang perlu mereka lakukan adalah mencoba bicara dengan pria tua asing berjanggut yang mencecar dengan banyak pertanyaan. Saya takkan menanyakan apa pun kepada mereka," pungkasnya.