Tanggal 26 Agustus 1883, Krakatau meletus dahsyat dan menjadi bencana alam terbesar di abad ke-19 dan dampaknya dirasakan di seluruh dunia. Saat itu untuk pertama kalinya, berita besar semacam ini bisa tersebar luas.
Kekuatan letusan tersebut menghasilkan suara terkeras, terdengar sejauh 4.653 km di Pulau Rodriguez di Samudra Hindia dan sekitar 4.800 km di Alice Springs, Australia
Dikutip detikINET dari Independent, Rabu (9/9/2026) gelombang kejutnya mengelilingi dunia hingga tujuh kali dan kekuatan ledakannya sekitar 10.000 kali lebih besar dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima. Bencana ini merenggut 36.000 nyawa, sementara penyintas harus berjuang menghadapi tsunami, letusan susulan, dan awan abu super panas.
Saat meletus, gumpalan abu menyembur 80 km ke angkasa, sementara gas panas jadi tak stabil dan menyapu pulau-pulau terdekat dengan kecepatan 150 km/jam.
"Mereka yang tidak terbunuh panas ekstrem, pasti tewas akibat terjangan debu dan pasir kecepatan tinggi. Panasnya cukup menghanguskan apa pun yang dilaluinya," kata Dr. Dave Rothery dari Departemen Ilmu Bumi di Open University.
Namun, pembunuh sebenarnya adalah tsunami raksasa yang muncul setelahnya. Tsunami ini mencapai ketinggian 40 meter dan begitu dahsyat hingga melemparkan bongkahan terumbu karang ke darat, di mana beberapa di antaranya seberat 600 ton.
Dunia cukup cepat mendapat berita letusan Krakatau karena serangkaian kabel telegraf bawah laut baru saja dipasang melintasi Bumi. Untuk pertama kali, operator dapat mengomunikasikan berita kepada rekan-rekan mereka di seluruh dunia menggunakan kode morse.
"Ini adalah pertama kalinya gunung berapi meletus dan langsung diketahui saat itu juga. Kabel telegraf bawah laut merupakan jaringan komunikasi yang menjadi cikal bakal internet," cetus Profesor Nick Petford dari Fakultas Ilmu Bumi dan Geologi di Kingston University, London.
Hal tersebut sungguh revolusioner. Krakatau meletus tidak teratur sejak 250 Masehi. Letusan terakhir sebelumnya bahkan jauh lebih kuat dan terjadi hanya 200 tahun sebelum 1883, namun hanya sedikit yang mendengarnya.
Teknologi baru juga berarti letusan Krakatau memicu studi ilmiah modern pertama tentang letusan gunung berapi. "Saat itu, geologi adalah disiplin ilmu yang sangat hidup. Ilmuwan Belanda, Rogier Verbeek, tiba di sana sangat cepat lalu mencatat segalanya. Laporannya merupakan sebuah karya luar biasa," kata Petford.
Verbeek disusul oleh tim ahli geologi dari Royal Society di London. Apa yang langsung terlihat jelas adalah, meskipun dua pertiga pulau Krakatau hancur, serangkaian pulau baru terbentuk. Banyak di antaranya bersifat sementara, tetapi Anak Krakatau yang terbentuk dari sisa-sisa induknya, tetap bertahan sampai sekarang.
(fyk/fay)