Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sejarah Letusan Anak Krakatau, Gunung Ini Terus Tumbuh dari Laut

Sejarah Letusan Anak Krakatau, Gunung Ini Terus Tumbuh dari Laut


Rachmatunnisa - detikInet

Gunung Anak Krakatau erupsi
Foto: Dok. PVMBG
Jakarta -

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik di Selat Sunda. Erupsi mulai terjadi pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berlanjut hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.

Dalam laporan pemantauan, aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain atau air mancur lava, yakni pancaran lava pijar yang keluar dari kawah akibat aktivitas magma di dalam gunung.

Erupsi disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten. Peralatan CCTV di sekitar kawah juga dilaporkan mengalami gangguan setelah terkena lontaran material erupsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Namun, ada hal yang membuat Anak Krakatau berbeda dari banyak gunung api lain. Gunung ini relatif muda dan tubuhnya masih terus dibangun oleh aktivitas vulkanik. Untuk memahami Anak Krakatau, kita harus mundur lebih dari satu abad.

ADVERTISEMENT

Dirangkum dari berbagai sumber, pada 1883, kompleks vulkanik Krakatau mengalami salah satu erupsi terbesar dalam sejarah modern. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan menghasilkan kaldera besar di Selat Sunda.

Beberapa dekade kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul dari kawasan kaldera tersebut. Erupsi mulai tercatat pada akhir 1927. Saat itu, aktivitas masih berlangsung di bawah permukaan laut. Material vulkanik kemudian menumpuk hingga sebuah gunung baru muncul ke permukaan pada 1929.

Gunung itulah yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami proses konstruksi. Lava, abu, dan material vulkanik yang keluar dari kawah perlahan menumpuk dan membentuk tubuh gunung.

Badan Geologi menyebut Anak Krakatau sebagai gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Gunung ini juga terus memperlihatkan aktivitas magmatik meskipun intensitasnya dapat berubah-ubah.

Menariknya, aktivitas 2026 sebenarnya sudah meningkat sejak beberapa bulan sebelum erupsi terbaru. Badan Geologi mencatat adanya emisi gas SO2 dan anomali panas yang terdeteksi satelit sejak Juni 2026.

Aktivitas kegempaan dan asap kawah kemudian meningkat, hingga status gunung dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 2 Juli 2026. Jadi, erupsi September bukanlah fenomena yang muncul tanpa tanda. Aktivitas gunung telah menunjukkan peningkatan selama beberapa bulan sebelumnya.

Anak Krakatau Terus Berubah

Gunung api pada dasarnya merupakan sistem yang terus bergerak. Magma dari dalam Bumi dapat naik melalui rekahan menuju permukaan. Ketika mencapai permukaan, magma berubah menjadi lava dan berbagai material vulkanik.

Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar kawah. Jika proses ini berlangsung berulang kali, tubuh gunung dapat bertambah tinggi dan berubah bentuk.

Namun, prosesnya tidak selalu berarti gunung hanya bertambah besar. Anak Krakatau pernah menunjukkan sisi sebaliknya pada 2018. Aktivitas vulkanik pada tahun tersebut menyebabkan sebagian tubuh gunung longsor ke laut.

Material dalam jumlah besar yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami pada 22 Desember 2018 dan menghantam pesisir Banten serta Lampung. Peristiwa itu penting karena menunjukkan bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berasal dari lava, abu, atau lontaran batu.

Perubahan bentuk tubuh gunung juga dapat menjadi sumber bahaya. BMKG menyebut longsoran material vulkanik ke laut sebagai salah satu bahaya sekunder yang perlu dipantau karena dapat memicu tsunami non-tektonik.

Namun, erupsi tidak otomatis berarti tsunami akan terjadi. Hingga laporan BMKG tersebut, tidak terdeteksi tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan tsunami. Potensi tsunami baru menjadi perhatian apabila terjadi mekanisme tertentu, terutama longsoran material gunung api dalam jumlah signifikan ke laut.

Karena itu, pemantauan Anak Krakatau dilakukan bukan hanya dengan melihat tinggi kolom abu atau aktivitas letusannya. Ilmuwan juga perlu mengamati perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, aktivitas magma, serta kondisi laut di sekitarnya.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena Anak Krakatau masih merupakan gunung api yang relatif muda. Gunung ini lahir dari kawasan yang pernah mengalami kehancuran besar pada 1883, kemudian muncul kembali dari laut dan terus membangun tubuhnya melalui erupsi.

Dengan kata lain, Anak Krakatau bukan gunung yang bentuknya sudah selesai. Setiap erupsi dapat menjadi bagian dari proses pembangunan sekaligus perubahan gunung tersebut.

Itulah sebabnya aktivitas terbaru tidak hanya menjadi tontonan lava yang menyembur dari kawah. Bagi ilmuwan, setiap perubahan adalah data untuk memahami bagaimana gunung api muda ini berkembang dan seberapa besar potensi bahayanya di masa depan.



(rns/rns)




Hide Ads