×
Ad

Kehidupan Laut Bumi 540 Juta Tahun Lalu Berubah Gegara Tahi Hewan

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 07 Sep 2026 22:03 WIB
Foto: Getty Images/Placebo365
Jakarta -

Siapa sangka kotoran hewan punya peran dalam membentuk ekosistem laut modern? Sekitar 540 juta tahun lalu, limbah dari hewan purba diduga ikut membantu menyediakan dan mengedarkan nutrisi di lautan, sehingga menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya kehidupan.

Temuan tersebut diungkap dalam sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Trends in Ecology & Evolution. Penelitian yang dilakukan Julien Kimmig dari Karlsruhe Institute of Technology dan Russell D.C. Bicknell dari Flinders University menyoroti apa yang mereka sebut sebagai fecal revolution atau revolusi feses pada periode Kambrium.

Periode Kambrium, yang berlangsung sekitar 539 hingga 485 juta tahun lalu, merupakan salah satu fase paling penting dalam sejarah kehidupan. Pada masa ini terjadi Ledakan Kambrium, yakni periode ketika keanekaragaman hewan dan kompleksitas ekosistem laut meningkat pesat.

Selama ini, ilmuwan telah mengaitkan perubahan tersebut dengan berbagai faktor, termasuk peningkatan oksigen, perubahan lingkungan, interaksi predator dan mangsa, serta evolusi bentuk tubuh baru.

Namun, Kimmig dan Bicknell menawarkan satu bagian yang mungkin selama ini kurang mendapat perhatian, kotoran hewan. Hewan pertama diperkirakan telah muncul sekitar 600 juta tahun lalu, pada periode Ediakara. Namun, bukti yang jelas mengenai kotoran fosil baru terlihat pada awal Kambrium. Fosil kotoran ini disebut koprolit.

Kemunculannya bukan kebetulan. Seiring perjalanan Kambrium, hewan berkembang menjadi semakin besar dan beragam. Sistem pencernaan mereka juga menjadi lebih kompleks. Pada beberapa arthropoda purba, misalnya, berkembang bagian depan saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan khusus yang memungkinkan mereka mengolah jenis makanan lebih beragam.

Perubahan itu menghasilkan limbah yang juga semakin beragam. Peneliti menemukan bukti koprolit dari lebih dari 35 endapan fosil di berbagai lokasi dunia. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari partikel mikroskopis hingga kotoran berukuran sentimeter yang bahkan mengandung cangkang dan fragmen hewan lain.

"Materi feses mencakup pelet mikroskopis hingga koprolit berukuran sentimeter yang mengandung cangkang dan fragmen hewan lainnya," Bicknell menjelaskan seperti dikutip dari The Brighter Side.



Simak Video "Badan Geologi Ingatkan Potensi Bahaya Gunung Tangkubanparahu"


(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork