Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Di Samping Jalan Tol Malah Ketemu Kota Kuno yang Hilang

Di Samping Jalan Tol Malah Ketemu Kota Kuno yang Hilang


Rachmatunnisa - detikInet

Inti dari situs Valeriana berisi lapangan bola dan pengaturan arsitektur yang menunjukkan tanggal konstruksi sebelum tahun 150 Masehi.
Inti dari situs Valeriana berisi lapangan bola dan pengaturan arsitektur yang menunjukkan tanggal konstruksi sebelum tahun 150 Masehi. Foto: Antiquity
Jakarta -

Selama bertahun-tahun, petani beraktivitas di sekitar hutan Campeche, Meksiko. Jalan tol juga melintas tidak jauh dari sana. Namun, tanpa mereka sadari, di balik pepohonan terdapat sisa-sisa sebuah kota Maya kuno yang belum tercatat oleh arkeolog.

Kota itu bernama Valeriana. Yang membuat penemuan ini menarik, para arkeolog tidak menemukannya dengan menggali tanah atau menyusuri hutan. Kota tersebut terungkap ketika peneliti mengolah kembali data LiDAR yang sebenarnya sudah dikumpulkan lebih dari satu dekade lalu untuk keperluan pemantauan hutan.

Teknologi LiDAR bekerja dengan menembakkan pulsa laser dari pesawat ke permukaan Bumi. Pantulan laser kemudian digunakan untuk membuat model tiga dimensi permukaan tanah. Dengan teknik tertentu, vegetasi lebat dapat 'disingkirkan' dari model sehingga struktur buatan manusia yang tersembunyi di bawah kanopi hutan bisa terlihat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kasus Valeriana, data LiDAR tersebut berasal dari survei tahun 2013 yang awalnya dilakukan untuk memantau deforestasi dan pertumbuhan hutan. Baru bertahun-tahun kemudian, Luke Auld-Thomas, saat itu mahasiswa pascasarjana, bersama timnya menggunakan kembali data tersebut untuk mencari jejak permukiman Maya.

Hasilnya mengejutkan. Pemetaan menunjukkan Valeriana memiliki setidaknya 16,6 kilometer persegi area yang dipenuhi struktur buatan manusia, termasuk bangunan monumental dan infrastruktur pertanian.

ADVERTISEMENT

Para peneliti menemukan dua pusat monumental utama yang berjarak sekitar dua kilometer. Keduanya terhubung dengan kawasan permukiman yang padat. Di salah satu bagian kota terdapat beberapa plaza, kuil piramida, lapangan permainan bola, jalan besar atau jalan pematang, serta waduk yang dibuat dengan membendung aliran air musiman.

Tim juga mengidentifikasi struktur yang kemungkinan merupakan kompleks E-Group, jenis kompleks arsitektur yang dapat menunjukkan bahwa kawasan tersebut sudah berkembang sejak masa awal peradaban Maya.

Valeriana diperkirakan berkembang pada periode Klasik Maya, sekitar 250-900 Masehi. Namun, penemuan yang lebih besar bukan sekadar adanya satu kota. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa permukiman padat kemungkinan jauh lebih luas di dataran rendah Maya daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Tim peneliti menganalisis sekitar 122 kilometer persegi data LiDAR dan memetakan 6.764 struktur. Kepadatan bangunan sangat bervariasi, dari kawasan yang hampir kosong hingga wilayah dengan ratusan struktur per kilometer persegi.

Di area Valeriana sendiri, kepadatan bangunan diperkirakan mencapai sekitar 426 struktur per kilometer persegi. Temuan ini penting karena survei arkeologi biasanya dilakukan di lokasi yang sudah diketahui memiliki reruntuhan.

Akibatnya, gambaran tentang kepadatan penduduk Maya bisa saja bias karena peneliti lebih sering mempelajari kawasan yang memang sudah terlihat penting. Dengan menggunakan data LiDAR yang awalnya dikumpulkan untuk tujuan lingkungan, peneliti justru mendapatkan semacam sampel acak dari lanskap Maya.

Hasilnya menunjukkan bahwa kota-kota dan permukiman padat kemungkinan bukan pengecualian. Penemuan Valeriana memperlihatkan kemampuan LiDAR dalam mengubah cara arkeolog mencari peradaban yang hilang.

Di hutan tropis, reruntuhan bangunan bisa sepenuhnya tertutup pepohonan dan semak. Dari permukaan tanah, gundukan kecil mungkin terlihat seperti bagian alami dari lanskap. LiDAR memiliki keunggulan karena laser dapat menembus celah di antara vegetasi.

Setelah jutaan titik pantulan diproses, komputer dapat menghasilkan model ketinggian permukaan tanah yang memperlihatkan pola geometris yang sulit dilihat mata manusia. Namun, teknologi ini bukan berarti langsung memberikan seluruh cerita.

LiDAR dapat menunjukkan bentuk dan lokasi struktur, tetapi tidak otomatis bisa menentukan kapan setiap bangunan dibuat, berapa banyak orang yang tinggal di sana pada waktu tertentu, atau bagaimana bangunan tersebut digunakan.

Karena itu, para peneliti menekankan bahwa hasil pemetaan Valeriana masih membutuhkan verifikasi lapangan. Beberapa fitur yang terlihat dalam citra LiDAR juga dapat ternyata merupakan formasi alami atau struktur yang dibuat manusia pada periode berbeda.

Meski begitu, penemuan ini sudah mengubah satu hal penting, hutan yang terlihat kosong ternyata menyimpan lanskap perkotaan yang kompleks. Bahkan yang lebih mengejutkan, Valeriana berada di dekat jalan raya dan kawasan yang selama puluhan tahun dimanfaatkan masyarakat untuk bertani.

Auld-Thomas mengatakan kepada Daily Galaxy bahwa pemerintah maupun komunitas ilmiah sebelumnya tidak mengetahui keberadaan kota tersebut. Artinya, sebuah kota kuno yang memiliki piramida, plaza, sistem pengelolaan air, dan ribuan struktur bisa bertahan tersembunyi di dekat aktivitas manusia modern.

Dan yang membukanya bukan ekspedisi besar-besaran ke dalam hutan. Bagi arkeologi modern, hal ini menunjukkan bahwa penemuan tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Kadang-kadang, jawabannya sudah ada di dalam data lama, tinggal menunggu teknologi dan pertanyaan yang tepat untuk membacanya kembali.

(rns/fay)






Hide Ads