Selama bertahun-tahun, petani beraktivitas di sekitar hutan Campeche, Meksiko. Jalan tol juga melintas tidak jauh dari sana. Namun, tanpa mereka sadari, di balik pepohonan terdapat sisa-sisa sebuah kota Maya kuno yang belum tercatat oleh arkeolog.
Kota itu bernama Valeriana. Yang membuat penemuan ini menarik, para arkeolog tidak menemukannya dengan menggali tanah atau menyusuri hutan. Kota tersebut terungkap ketika peneliti mengolah kembali data LiDAR yang sebenarnya sudah dikumpulkan lebih dari satu dekade lalu untuk keperluan pemantauan hutan.
Teknologi LiDAR bekerja dengan menembakkan pulsa laser dari pesawat ke permukaan Bumi. Pantulan laser kemudian digunakan untuk membuat model tiga dimensi permukaan tanah. Dengan teknik tertentu, vegetasi lebat dapat 'disingkirkan' dari model sehingga struktur buatan manusia yang tersembunyi di bawah kanopi hutan bisa terlihat.
Dalam kasus Valeriana, data LiDAR tersebut berasal dari survei tahun 2013 yang awalnya dilakukan untuk memantau deforestasi dan pertumbuhan hutan. Baru bertahun-tahun kemudian, Luke Auld-Thomas, saat itu mahasiswa pascasarjana, bersama timnya menggunakan kembali data tersebut untuk mencari jejak permukiman Maya.
Hasilnya mengejutkan. Pemetaan menunjukkan Valeriana memiliki setidaknya 16,6 kilometer persegi area yang dipenuhi struktur buatan manusia, termasuk bangunan monumental dan infrastruktur pertanian.
Para peneliti menemukan dua pusat monumental utama yang berjarak sekitar dua kilometer. Keduanya terhubung dengan kawasan permukiman yang padat. Di salah satu bagian kota terdapat beberapa plaza, kuil piramida, lapangan permainan bola, jalan besar atau jalan pematang, serta waduk yang dibuat dengan membendung aliran air musiman.
Tim juga mengidentifikasi struktur yang kemungkinan merupakan kompleks E-Group, jenis kompleks arsitektur yang dapat menunjukkan bahwa kawasan tersebut sudah berkembang sejak masa awal peradaban Maya.
Valeriana diperkirakan berkembang pada periode Klasik Maya, sekitar 250-900 Masehi. Namun, penemuan yang lebih besar bukan sekadar adanya satu kota. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa permukiman padat kemungkinan jauh lebih luas di dataran rendah Maya daripada yang sebelumnya diperkirakan.
Tim peneliti menganalisis sekitar 122 kilometer persegi data LiDAR dan memetakan 6.764 struktur. Kepadatan bangunan sangat bervariasi, dari kawasan yang hampir kosong hingga wilayah dengan ratusan struktur per kilometer persegi.
(rns/fay)