Abu vulkanik kerap terlihat seperti debu halus yang turun dari langit saat gunung api meletus. Namun, material berwarna abu-abu atau hitam itu sebenarnya bukan abu seperti sisa pembakaran kayu atau kertas.
Abu vulkanik merupakan kumpulan partikel sangat kecil dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik (silika) yang terlempar ke udara saat terjadi erupsi. Ukurannya bisa sangat kecil, bahkan kurang dari 0,001 milimeter, hingga sekitar 2 milimeter.
Lantas, bagaimana magma yang berada jauh di dalam Bumi bisa berubah menjadi partikel-partikel kecil tersebut? Prosesnya bermula dari magma, yakni batuan cair panas yang berada di bawah permukaan Bumi. Magma mengandung gas yang terlarut di dalamnya, terutama uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.
Dikutip dari How Stuff Works, ketika magma bergerak naik menuju permukaan, tekanan di sekitarnya semakin berkurang. Gas yang sebelumnya terlarut di dalam magma kemudian mengembang dan berusaha keluar. Pada magma yang encer, gas relatif mudah keluar sehingga letusan cenderung tidak terlalu eksplosif dan magma dapat mengalir sebagai lava.
Sebaliknya, magma yang lebih kental membuat gas lebih sulit keluar. Tekanan pun menumpuk sampai akhirnya gas dilepaskan secara sangat cepat. Ledakan tersebut memecah magma menjadi serpihan-serpihan kecil dan melemparkannya ke udara.
Sederhananya, proses ini mirip seperti membuka botol minuman bersoda yang dikocok. Gas yang tiba-tiba keluar membawa cairan bersamanya. Bedanya, pada gunung api, tekanan gas yang sangat besar dapat menghancurkan magma menjadi partikel berukuran sangat kecil.
Abu vulkanik juga tidak selalu berasal dari magma baru. Saat magma bergerak menuju permukaan, material tersebut dapat merobek atau menghancurkan batuan yang berada di dalam saluran gunung api. Fragmen batuan itu kemudian ikut terlontar dan menjadi bagian dari abu.
Menurut US Geological Survey (USGS), abu vulkanik biasanya terdiri atas tiga komponen utama, yakni pecahan kaca vulkanik (silika), mineral atau kristal, serta fragmen batuan lainnya. Bentuk partikelnya pun tidak seperti butiran debu biasa.
Pecahan kaca dan batuan vulkanik dapat memiliki permukaan yang tajam dan tidak beraturan. Karena itu, abu vulkanik bersifat keras dan abrasif. Inilah salah satu alasan abu vulkanik dapat menjadi masalah serius bagi manusia maupun berbagai perangkat. USGS menyebut abu dapat mengganggu kesehatan, merusak mesin dan elektronik, mengganggu telekomunikasi, serta membahayakan pesawat yang melintas di dalam atau dekat awan abu.
Simak Video "Video: Gunung Marapi Erupsi Siang Ini, Semburkan Abu Vulkanik Capai 800 Meter"
(rns/fay)