Citra satelit Copernicus Sentinel-2 milik program observasi Bumi Uni Eropa menangkap kebakaran dan kepulan asap tebal di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat. Citra tersebut direkam pada 2 September 2026.
Dalam citra satelit, sejumlah area kebakaran aktif terlihat berwarna jingga-merah. Sementara itu, kepulan asap berwarna abu-putih tampak membentang ke arah barat menuju pantai dan melintasi lanskap di sekitarnya.
Penampakan dari angkasa tersebut memperlihatkan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi saat musim kemarau. Kebakaran menjadi perhatian khusus ketika menjalar ke lahan gambut yang menyimpan karbon dalam jumlah besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Api di lahan gambut juga lebih sulit dipadamkan karena dapat membakar material organik dan merambat di bawah permukaan tanah. Kondisi ini memungkinkan asap terus muncul meski kobaran api di permukaan tidak terlalu terlihat.
Asap Karhutla Ancam Kesehatan
Dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Asap yang dihasilkan juga dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terkait asap karhutla sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Lebih dari 12.000 kasus di antaranya dilaporkan terjadi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun.
Situasi kebakaran di Ketapang sebelumnya juga sempat meningkat hingga mendorong penanganan darurat. Kualitas udara di sejumlah lokasi dilaporkan memburuk hingga masuk kategori tidak sehat bahkan berbahaya.
Satelit Pantau Kebakaran dari Angkasa
Teknologi satelit menjadi salah satu perangkat penting untuk memantau kebakaran di wilayah yang luas. Sentinel-2 dapat menghasilkan citra beresolusi tinggi yang membantu mengidentifikasi area terbakar dan memantau perubahan kondisi permukaan Bumi.
Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) juga menyediakan Fire Emissions Watch, layanan yang menyajikan informasi mengenai aktivitas kebakaran dan emisi yang dihasilkannya.
Data tersebut dapat digunakan untuk membantu menilai pengaruh kebakaran terhadap atmosfer dan kualitas udara, baik secara lokal maupun regional.
Selain Copernicus, pemantauan karhutla di Indonesia turut memanfaatkan berbagai sumber data satelit dan sistem nasional. Informasi tersebut membantu mendeteksi titik panas, memantau penyebaran asap, hingga mendukung respons petugas di lapangan.
Citra terbaru Sentinel-2 di Ketapang sekaligus memperlihatkan bagaimana kebakaran yang terjadi di permukaan Bumi dapat dipantau secara detail dari angkasa. Pemantauan semacam ini menjadi semakin penting selama musim kemarau ketika risiko karhutla meningkat.
NASA Soroti Kebakaran Gambut RI Foto: NASA |
NASA Sebut Aktivitas Kebakaran Mirip 2015
Citra Sentinel-2 di Ketapang muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap kebakaran gambut di Indonesia. Sebelumnya, satelit Aqua milik NASA juga menangkap ratusan titik api yang tersebar di lahan gambut Indonesia pada 1 September 2026.
Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, mengatakan Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi aktivitas kebakaran sudah meningkat tajam dan menunjukkan kemiripan dengan 2015.
Kondisi tersebut dipengaruhi El Nino yang menguat sejak Agustus 2026, bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole. Kombinasi keduanya dapat menekan curah hujan dan membuat wilayah rawan kebakaran semakin kering.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 946 titik panas di Indonesia pada 31 Agustus 2026. Sementara itu, hingga 2 September, kebakaran tahun ini diperkirakan telah menghasilkan sekitar 10% dari total emisi yang dilepaskan selama kebakaran besar 2015.
Ancaman terbesar berasal dari api yang masuk ke lapisan gambut. Kebakaran semacam ini dapat terus membara di bawah permukaan dan sulit dipadamkan hingga hujan deras datang.
(afr/afr)


