×
Ad

Suku Bajo Punya 'Kekuatan Super' Menyelam, Ilmuwan Ungkap Rahasianya

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 04 Sep 2026 07:45 WIB
Seorang nelayan Suku Bajo memegang gurita yang berhasil ditangkap dengan menggunakan panah tradisional di perairan Mola Selatan, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (6/10/2025). Foto: ANTARA FOTO/JOJON
Jakarta -

Suku Bajo atau Suku Bajau merupakan pengembara laut yang punya kemampuan menyelam andal, di atas rata-rata manusia biasa. Rumah mereka di laut, sekitaran perairan Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Menurut National Geographic, mereka mampu mencapai kedalaman 200 kaki atau sekitar 61 meter dalam sekali tarikan napas dan bertahan di bawah air selama lebih dari sepuluh menit. Ini setara dengan ketinggian gedung 15 sampai 20 lantai di darat.

Hal ini sungguh mencengangkan. Namun, sebagaimana ditemukan oleh para peneliti, mereka mungkin memang telah berevolusi untuk kemampuan tersebut. Studi terkait kemampuan super mereka telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell melalui sebuah artikel berjudul 'Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads' pada 19 April 2018.

"Dalam sebuah studi terhadap spesies anjing laut penyelam, ditemukan adanya korelasi positif antara durasi penyelaman maksimum dan massa limpa; hal ini mengisyaratkan bahwa ukuran limpa bisa menjadi karakteristik penting yang memengaruhi durasi penyelaman," terang peneliti di jurnal tersebut.

Akan tetapi, hubungan antara ukuran limpa dan kapasitas menyelam belum pernah diteliti pada tingkat genetik. Faktanya, hanya sedikit informasi yang diketahui mengenai dasar genetik respons menyelam pada manusia.

Sejauh ini, hanya ada satu studi yang mengklaim telah menemukan varian genetik yang secara langsung memengaruhi respons tersebut. Dalam studi itu, reseptor bradikinin B2 (BDKRB2) -- suatu peptida sinyal yang terkait dengan vasodilatasi maupun vasokonstriksi -- diindikasikan memengaruhi vasokonstriksi perifer yang dipicu oleh respons menyelam.

"Langkah pertama kami adalah mengidentifikasi apakah terdapat bukti bahwa suku Bajau memiliki ukuran limpa yang lebih besar dibandingkan tetangga geografis terdekat mereka, suku Saluan, yang interaksinya dengan lingkungan laut tergolong minim," kata peneliti.

Mereka menentukan dua desa pesisir yang berjarak sekitar 25 km satu sama lain di semenanjung Sulawesi Tengah, Indonesia, yaitu Jaya Bakti dan Koyoan. Kedua desa ini masing-masing dihuni terutama oleh kelompok etnis Bajau dan Saluan.

Kemudian, peneliti merekrut 59 individu dari suku Bajau dan 34 individu dari suku Saluan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Dari setiap individu, kami mengambil sampel air liur untuk analisis DNA serta melakukan pengukuran limpa menggunakan alat ultrasonografi (USG) portabel.

Setelah diteliti, Suku Bajo memiliki ukuran limpa rata-rata 50% lebih besar dari Suku Saluan. Menariknya, ukuran limpa yang besar ini ditemukan pada seluruh masyarakat Bajo, termasuk mereka yang tidak bekerja sebagai penyelam. Ini menjadi pembuktian bahwa karakteristik tersebut bersifat genetik, bukan sekadar efek latihan fisik.

Selain itu, melalui pemindaian genom, para ilmuwan mengidentifikasi adanya seleksi alam yang kuat pada gen PDE10A. Nah, peningkatan hormon tiroid ini lah yang secara biologis memicu pembesaran ukuran limpa pada Suku Bajo. Dengan demikian, tubuh mereka memiliki cadangan oksigen yang jauh lebih banyak saat menahan napas di dalam air.

Ada lagi adaptasi gen BDKRB2 yang berkaitan dengan refleks menyelam. Mekanisme ini berhasil menghemat oksigen agar tetap di alirkan ke organ-organ vital misalnya otak dan jantung, meski orangnya sedang melakukan penyelaman yang ekstrem.



Simak Video "Kamera HP, Tapi Hasilnya Nggak Kaleng-Kaleng"

(ask/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork