Di area sepanjang sekitar 1.200 kilometer Zona Patahan Diamantina yang membelah dasar laut antara Australia dan Antarktika dengan kedalaman 7.002 meter, ilmuwan menemukan nekropolis (kuburan kuno) yang belum pernah ada sebelumnya. Area ini berisi sisa-sisa hampir 500 paus dan diprediksi masih ada jauh lebih banyak lagi.
Beberapa tulang belulang tersebut diperkirakan berasal dari 5,3 juta tahun lalu. Ini adalah kuburan paus terbesar, terdalam, dan tertua yang pernah ditemukan, dan kemungkinan terakumulasi terus-menerus selama jutaan tahun. Riset dilakukan tim yang dipimpin ilmuwan laut dalam Xiaotong Peng dari Chinese Academy of Sciences.
Tidak banyak bisa bertahan di dasar laut terdalam. Di bawah 1.000 meter, Matahari tak lagi menjangkau. Berat air di atasnya menciptakan tekanan menghancurkan, dan suhu tepat di atas titik beku. Satu-satunya kehangatan hanyalah di sekitar celah vulkanik di dasar laut. Tempat ini tak kenal ampun, di mana makanan relatif langka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangkai paus yang jatuh, dikenal sebagai whale falls, merupakan pesta pora bagi kehidupan di dasar laut, mengubah hamparan pasir tandus menjadi ekosistem subur, meskipun hanya bersifat sementara. Bahkan tulang-belulang paus menjadi makanan bagi cacing Osedax, yang biasanya mengonsumsinya sampai tidak ada yang tersisa.
Para peneliti tersebut sedang mengeksplorasi Zona Patahan Diamantina sebagai bagian dari Global Trench Exploration and Dive Programme (Global TREnD), yang kini dikenal sebagai Global Hadal Exploration Programme (GHEP)-sebuah proyek penelitian yang berfokus untuk memahami batas akhir sejati dari planet kita, yaitu bagian terdalam dari lautan.
Februari 2023, selama penyelaman menggunakan kapal selam berawak yang disebut Fendouzhe, peneliti melihat kuburan paus pertama. Minggu-minggu berikutnya, mereka menyelam 32 kali lagi dan apa yang ditemukan sungguh mencengangkan.
Kuburan paus Foto: Science Alert |
Di sepanjang jurang sejauh 1.200 kilometer, para peneliti mencatat dan mengambil sampel di 485 lokasi jatuhan paus. Temuan mereka mencakup sisa-sisa fosil dari 476 paus dan lima ekosistem jatuhan paus yang saat ini masih aktif.
Mereka juga mengumpulkan banyak sampel. Tengkorak tertua yang didapatkan diperkirakan berasal dari 5,26 juta tahun lalu. Sebagian besar dari sisa tersebut adalah tengkorak paus paruh (beaked whale) modern maupun yang sudah punah, sebuah keluarga paus laut dalam yang sulit dijumpai dan dinamai berdasarkan moncong mirip lumba-lumba. Tulang moncong paus ini sangat padat dan dapat bertahan cukup lama.
Misteri Paus Paruh di Zona Patahan
Ada kemungkinan Zona Patahan Diamantina adalah titik akumulasi alami bagi banyak spesies paus berbeda, namun spesies lainnya membusuk terlalu cepat. Mungkin juga gaya hidup paus paruh yang berspesialisasi memangsa cumi-cumi dan ikan laut dalam berkontribusi pada penumpukan mereka di sana.
"Kedalaman penyelaman maksimum untuk paus paruh diperkirakan lebih dari 3.000 meter berdasarkan kolapsnya paru dan kapasitas penyimpanan oksigen. Karena itu, mencari makan di kedalaman melebihi 3.000 meter akan membebani fisiologis paus secara ekstrem dan dapat meningkatkan risiko kelelahan fatal atau penyakit dekompresi," tulis para peneliti dalam makalah mereka.
"Pada akhirnya, topografi Zona Diamantina yang berbentuk V mungkin makin berkontribusi terhadap akumulasi ini dengan menyalurkan dan memusatkan ke dasar laut, bangkai-bangkai yang tenggelam akibat kematian alami maupun tidak disengaja," tambah mereka.
Peneliti mendokumentasikan biota kaya yang tumbuh subur di lima kuburan paus aktif, termasuk cacing Osedax, bintang mengular (brittle stars), dan moluska bivalvia. Ini menunjukkan ekosistem kuburan paus dapat berkembang jauh dari yang diketahui selama ini.
Selain itu, situs ini merepresentasikan arsip evolusi, yang mengawetkan jutaan tahun sejarah evolusi paus paruh di satu tempat. Peneliti mendokumentasikan setidaknya satu spesies punah yang sebelumnya tidak diketahui, dan mencurigai ada lebih banyak lagi menunggu untuk ditemukan.
(fyk/fyk)
