Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bintang Laut Langka Justru Dilepas ke Laut, Selamatkan Ekosistem Hewan Nyaris Punah

Bintang Laut Langka Justru Dilepas ke Laut, Selamatkan Ekosistem Hewan Nyaris Punah


Rachmatunnisa - detikInet

Puluhan bintang laut bunga matahari (sunflower sea star) yang terancam punah kembali dilepas ke perairan Kepulauan San Juan, Washington, Amerika Serikat
Foto: NPR
Jakarta -

Puluhan bintang laut bunga matahari (sunflower sea star) yang terancam punah kembali dilepas ke perairan Kepulauan San Juan, Washington, Amerika Serikat. Pelepasan ini menjadi bagian dari upaya ilmuwan memulihkan salah satu predator penting di ekosistem laut Pasifik.

Sebanyak 20 bintang laut yang selama ini dibesarkan di laboratorium University of Washington dibawa menggunakan kapal penelitian milik Samish Indian Nation. Para penyelam kemudian menurunkannya ke dasar laut di sekitar Pulau Decatur pada April 2026.

Bintang laut tersebut bukan jenis biasa. Sunflower sea star dapat memiliki hingga 24 lengan dan membentang lebih dari 90 sentimeter. Hewan ini juga termasuk salah satu bintang laut tercepat, mampu bergerak di dasar laut menggunakan ribuan kaki tabung kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang membuatnya sangat penting adalah perannya sebagai predator puncak di dasar laut. Sunflower sea star memang terlihat tidak berbahaya. Namun, keberadaannya punya pengaruh besar terhadap keseimbangan ekosistem.

Salah satu mangsa utamanya adalah bulu babi laut (sea urchin). Jika jumlah bintang laut menurun drastis, populasi bulu babi dapat meningkat dan menghabiskan hutan kelp. Padahal, hutan kelp merupakan habitat penting bagi berbagai organisme laut sekaligus membantu melindungi garis pantai.

ADVERTISEMENT

"Mereka menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Mereka melindungi garis pantai. Mereka mendukung perikanan lokal. Rasanya seperti, apa yang tidak dilakukan hutan kelp?," kata Jason Hodin, ilmuwan riset dari University of Washington, menggambarkan pentingnya ekosistem tersebut, dikutip dari NPR.

Ketika populasi sunflower sea star anjlok, sejumlah hutan kelp di pesisir barat Amerika Utara ikut mengalami tekanan akibat ledakan populasi bulu babi. Masalah besar menimpa bintang laut ini dalam sekitar satu dekade terakhir.

Wabah sea star wasting disease menyebabkan jutaan hingga miliaran bintang laut mati. Penyakit tersebut dapat membuat tubuh bintang laut mengalami kerusakan parah hingga bagian lengannya hancur.

Para peneliti kemudian mengidentifikasi bakteri Vibrio pectenicida sebagai penyebab penyakit tersebut. Gelombang panas laut diduga ikut menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan bakteri.

Hodin memperkirakan dampaknya sangat besar terhadap sunflower sea star. "Kami benar-benar kehilangan banyak bintang laut. Kami memperkirakan telah kehilangan 90% sunflower sea star," ujarnya.

Wabah tersebut menyebar dari perairan California hingga Alaska dan memengaruhi puluhan spesies bintang laut. Karena penurunan populasinya yang ekstrem, sunflower sea star dikategorikan sebagai critically endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dibesarkan di Laboratorium

Untuk mencegah spesies ini semakin mendekati kepunahan, ilmuwan University of Washington mencoba membiakkannya di laboratorium. Di Friday Harbor Laboratories, para peneliti merawat ribuan sunflower sea star mulai dari larva berukuran mikroskopis hingga individu dewasa.

Prosesnya tidak mudah. Para peneliti harus mempelajari cara membiakkan hewan yang sebelumnya relatif sedikit diteliti tersebut. Mereka juga mengembangkan cara menangani penyakit wasting ketika penyakit itu masuk ke fasilitas laboratorium.

Beberapa bintang laut yang akhirnya dilepas berusia sekitar tiga tahun dan ukurannya sudah lebih besar daripada rentang tangan manusia. Bahkan, para peneliti memberikan nama kepada sebagian bintang laut yang mereka rawat, seperti Nacho, Baby Carrot, dan Pluot.

Pelepasan 20 bintang laut tersebut sebenarnya direncanakan lebih awal. Namun, rencana pada Oktober 2025 terpaksa ditunda setelah penyelam menemukan wabah sea star wasting disease masih aktif di sekitar Kepulauan San Juan.

Setelah kondisi dinilai memungkinkan, tim akhirnya kembali mencoba melepas bintang laut hasil penangkaran pada April 2026. Bagi para peneliti, momen tersebut bukan sekadar memindahkan hewan dari satu tempat ke tempat lain.

Samuel Strauss, ahli biologi Samish Nation yang memimpin penyelaman, menggambarkan perasaannya saat bintang laut akhirnya menyentuh habitat alaminya. "Saya sangat bersyukur melihat bintang-bintang laut ini sehat dan bahagia di dalam air."

Menurut Strauss, bintang-bintang laut tersebut segera keluar dari wadah setelah dilepaskan dan mulai menjelajahi lingkungan sekitar, mencari batu untuk bersembunyi serta helaian kelp untuk berlindung.

Proyek ini memiliki tujuan yang lebih besar daripada meningkatkan jumlah sunflower sea star. Para ilmuwan ingin melihat apakah mengembalikan predator tersebut dapat membantu memulihkan hutan kelp.

Jika jumlah bintang laut kembali meningkat, populasi bulu babi yang memakan kelp diharapkan dapat lebih terkendali. Dengan demikian, predator yang nyaris hilang tersebut berpotensi membantu memulihkan keseimbangan ekosistem.



(rns/rns)




Hide Ads