Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Air Bah Raksasa yang Menggulung Nepal Diduga Setinggi 40 Meter

Air Bah Raksasa yang Menggulung Nepal Diduga Setinggi 40 Meter


Fino Yurio Kristo - detikInet

A mud-covered building following a flash flood at Trishuli in Nuwakot district, Nepal, August 26, 2026. REUTERS/Navesh Chitrakar
Bencana banjir bandang di Nepal. Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar
Jakarta -

Banjir mematikan yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Nepal dapat ditelusuri pemicunya hingga ke Pegunungan Himalaya. Menurut seorang pakar, sebuah peristiwa geofisika masif"memicu reaksi berantai yang mematikan.

Menurut Goran Ekstrom dari Lamont-Doherty Earth Observatory Columbia University ke ABC News yang dikutip detikINET, sebuah tanah longsor di celah pegunungan yang terjadi siang hari menyapu bongkahan besar daratan beserta es gletser di atasnya di Himalaya.

Peristiwanya begitu dahsyat hingga menghasilkan energi setara gempa bermagnitudo 5,2 yang tercatat pada seismograf di seluruh dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa semacam ini pernah terjadi di Himalaya, tapi menurut Ekstrom ini adalah peristiwa geofisika masif. Ketika bebatuan runtuh dari gunung, hal itu menghasilkan banyak energi dan suhu panas yang mencairkan gletser. Menurut sang profesor, inilah mungkin penyebab mengapa begitu banyak air tumpah ke dasar gunung.

Es, puing reruntuhan, dan air meluncur turun ke lembah. Ekstrom memperkirakan air banjir tersebut luar biasa tinggi, kemungkinan 40 hingga 49 meter dan air tersebut mungkin bergerak secepat 70 kilometer per jam.

ADVERTISEMENT

Tanah longsor kedua terjadi sekitar tiga jam setelah yang pertama, memicu kekhawatiran bahwa longsor awal membuat lereng menjadi tidak stabil dan berpotensi menyebabkan lebih banyak longsor di kawasan tersebut.

Alur-alur sungai kemungkinan tersumbat lumpur dan puing-puing, sehingga membentuk bendungan alami yang sewaktu-waktu bisa jebol.

Ia menambahkan, perubahan iklim mempercepat pencairan es dan gletser di seluruh dunia. Bencana seperti ini memang bisa terjadi tanpa adanya perubahan iklim, tapi ada kemungkinan perubahan iklim memperparah peristiwa semacam ini.

"Secara umum, tanah longsor di daerah pegunungan ini menjadi semakin sering terjadi. Hal itu telah dipastikan, dan itu terkait erat dengan mencairnya gletser," ujarnya.

Ini bukan kali pertama wilayah tersebut mengalami banjir bandang. Pada 8 Juli 2025, volume Sungai Bhotekoshi tiba-tiba melonjak, yang disimpulkan Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal sebagai akibat luapan danau gletser di Sungai Lhende dekat perbatasan Nepal-China.

Ilmuwan memperingatkan bahwa kawasan Himalaya sangat rentan terhadap jenis banjir ini, karena memiliki banyak danau gletser yang berpotensi membahayakan.

Sebuah studi International Centre for Integrated Mountain Development dan UNDP mengidentifikasi 3.624 danau gletser di seluruh Nepal, India, dan Tibet. Dari jumlah tersebut, 47 di antaranya diklasifikasikan berpotensi bahaya dan berisiko jebol, termasuk 21 danau di Nepal.

Tidak ada prakiraan cuaca sebelum banjir hari Rabu yang memprediksi bahwa longsoran es akan melanda lokasi ini. Setidaknya 358 orang tewas akibat banjir tersebut hingga Kamis pagi waktu setempat.

Lebih dari 1.300 orang dilaporkan hilang dari area terdampak. Dari mereka yang putus kontak, 476 di antaranya adalah turis asing.



(fyk/fyk)




Hide Ads