Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sistem Peringatan Dini Kirim 600.000 Pesan ke HP Warga Nepal

Sistem Peringatan Dini Kirim 600.000 Pesan ke HP Warga Nepal


Aisyah Kamaliah - detikInet

Nepal: Lebih dari 270 Tewas, Hampir 1400 Dinyatakan Hilang
Nepal: Lebih dari 270 Tewas, Hampir 1400 Dinyatakan Hilang. Foto: DW (News)
Jakarta -

Sistem peringatan dini menggunakan berbagai perangkat, data, dan saluran komunikasi untuk mendeteksi bencana alam sebelum terjadi. Di Nepal, peringatan darurat telah dikirimkan ke 600.000 perangkat warga. Kendati demikian, hal itu tidak cukup untuk menyelamatkan desa-desa dan penduduk setempat.

Early Warning Systems (EWS) dibutuhkan untuk membantu dalam merespons ancaman bencana. EWS lebih dari sekadar mengirimkan pesan teks setelah banjir atau kebakaran terjadi, dia dirancang untuk mendeteksi potensi bahaya sejak dini, memantau perkembangannya, serta memprediksi arah pergerakannya.

Sistem peringatan dini yang paling efektif mampu menyampaikan informasi dengan cepat, sehingga masyarakat dan petugas tanggap darurat dapat segera mengambil tindakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memantau pergerakan dan perkembangan bencana merupakan hal yang sangat penting. Dalam kasus banjir, stasiun pemantau sungai yang ditempatkan pada titik-titik strategis dapat mengukur ketinggian dan debit air.

Kamera serta berbagai sensor lainnya dapat memberi informasi mengenai kecepatan aliran dan keberadaan material hanyut. Jika dipadukan pemodelan banjir secara real-time, hasil pengamatan ini dapat menunjukkan kapan banjir akan mencapai permukiman di hilir, seberapa parah dampaknya, serta wilayah mana yang berpotensi terendam.

ADVERTISEMENT

Melansir The Conversation, Jumat (28/8/2026), informasi ini juga sangat bermanfaat bagi petugas tanggap darurat. Jika pihak berwenang mengetahui suatu permukiman memiliki waktu 20 menit sebelum banjir tiba sementara permukiman lain memiliki waktu 50 menit, mereka dapat memprioritaskan evakuasi serta mengidentifikasi jalan dan jembatan yang mungkin akan segera tidak dapat dilalui.

Kasus di Nepal

Bencana besar melanda Nepal, dipicu oleh runtuhnya gletser raksasa di Taman Nasional Langtang sekitar pukul 08.40 pagi. Divisi Prakiraan Banjir Nepal segera menerima informasi bahwa banjir besar telah memasuki sistem Sungai Bhote Koshi dari arah Tibet.

Dalam hitungan menit, lebih dari 600.000 pesan peringatan melalui telepon seluler dikirimkan kepada masyarakat. Pada saat itu, stasiun pemantau Syabrubesi di Nepal utara sudah berhenti mengirimkan data. Seiring pergerakan banjir ke arah hilir, pihak berwenang terus memantau situasinya dan mengeluarkan peringatan.

Pihak berwenang Nepal lama mengetahui risiko terjadinya bencana semacam itu. Kajian tahun 2020 yang dilakukan oleh International Centre for Integrated Mountain Development dan United Nations Development Programme mengidentifikasi 47 danau glasial yang berpotensi berbahaya di seluruh daerah aliran sungai utama di wilayah tersebut.

'Anggota keluarga saya tersapu banjir di depan mata saya'  Fakta-fakta banjir dan longsor di Nepal yang tewaskan ratusan orang'Anggota keluarga saya tersapu banjir di depan mata saya' Fakta-fakta banjir dan longsor di Nepal yang tewaskan ratusan orang Foto: BBC World

Kajian ini didasarkan pada data citra satelit dan teknologi penginderaan jauh lainnya yang digunakan untuk memantau aktivitas gletser. Area-area berisiko tinggi kemudian dapat dipantau menggunakan kamera, alat pengukur ketinggian air danau, stasiun cuaca, serta sensor untuk mengukur pergerakan tanah atau es.

Pemerintah Nepal telah menerapkan teknologi serupa di Danau Imja, sebuah danau glasial yang berkembang pesat di pegunungan Himalaya. Pihak berwenang memasang sensor dan sirene otomatis pada tahun 2016, namun peralatan tersebut kini sudah tidak berfungsi dengan baik akibat kurangnya pemeliharaan.

EWS Tak Jadi Satu-satunya Andalan

Banjir dahsyat di Nepal ini menjadi menyingkap keterbatasan sistem peringatan dini.

Bagi masyarakat yang berada di dekat sumber bencana, peringatan banjir datang terlambat. Oleh karena itu, sistem peringatan sebaiknya diotomatisasi sebisa mungkin.

Saat sensor mendeteksi kondisi berbahaya, informasi harus segera sampai ke pihak berwenang di bidang prakiraan cuaca dan penanganan darurat. Selanjutnya, peringatan berbasis lokasi melalui ponsel harus dikirimkan kepada warga di wilayah yang terancam.

Akan tetapi, jaringan seluler dan aliran listrik bisa saja terputus, sehingga ponsel tidak bisa menjadi satu-satunya solusi. Sirene, radio, dan tim tugas khusus setempat yang terlatih menjadi cadangan penting serta memastikan warga mengetahui ke mana harus pergi dan rute evakuasi mana yang harus ditempuh.

Jaringan pemantauan itu sendiri harus tangguh. Di Nepal, beberapa stasiun cuaca berhenti mengirimkan data atau hanyut terbawa arus saat banjir baru-baru ini terjadi.

Infrastruktur pemantauan harus dirancang agar tetap berfungsi meskipun ada instrumen yang gagal beroperasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan stasiun cuaca, jalur komunikasi, dan sistem daya cadangan secara lebih strategis.

Penelitian harus difokuskan pada intervensi yang paling efektif serta wilayah penerapannya. Pasca-banjir di Nepal baru-baru ini, masih ada beberapa pertanyaan penting yang belum terjawab, termasuk seberapa rapat jarak ideal antarstasiun pemantau sungai dan berapa lama waktu peringatan yang dibutuhkan berbagai kelompok masyarakat untuk dapat mengevakuasi diri dengan aman.

Masyarakat mungkin hanya memiliki waktu beberapa menit sebelum bencana melanda. Sistem peringatan dini yang efektif bertujuan untuk memastikan setiap menit yang berharga tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.



(ask/ask)




Hide Ads