Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Unik! Hotel Ini Dirancang 'Menghilang' di Gurun Namibia

Unik! Hotel Ini Dirancang 'Menghilang' di Gurun Namibia


Rachmatunnisa - detikInet

Hotel di Gurun Namibia
Foto: ClickPetroleoeGas
Jakarta -

Di gurun Namibia, Afrika bagian selatan, sejumlah hotel mewah justru dirancang agar nyaris tidak terlihat. Alih-alih menjulang mencolok, bangunan-bangunan ini dibuat menyatu dengan bukit pasir, bebatuan granit, hingga bangkai kapal yang menjadi ciri khas lanskap Namibia.

Konsep tersebut dikenal sebagai invisible architecture alias arsitektur tak terlihat, yaitu pendekatan desain yang meminimalkan dampak visual bangunan terhadap lingkungan sekaligus menjaga ekosistem alam tetap mendominasi pemandangan.

Mengutip Click PetrΓ³leo e GΓ‘s, salah satu contoh paling unik adalah Shipwreck Lodge, hotel yang berdiri di kawasan Skeleton Coast National Park. Bentuk kabinnya sengaja dibuat menyerupai bangkai kapal yang terdampar di pantai, terinspirasi oleh ratusan kapal karam yang tersebar di sepanjang Skeleton Coast.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bangunan menggunakan kayu berwarna kusam yang menyerupai kayu lapuk akibat terpaan angin laut dan pasir. Dari kejauhan, hotel ini tampak seperti bagian dari lanskap, bukan bangunan baru.

Selain menyatu secara visual, material bangunan juga dipilih agar dapat dibongkar apabila suatu saat izin penggunaan kawasan berakhir, sehingga dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan.

ADVERTISEMENT

Konsep serupa diterapkan pada Onduli Enclave di wilayah Damaraland. Villa ini dibangun di atas singkapan granit dengan atap berwarna kemerahan yang mengikuti warna batuan di sekitarnya. Struktur bangunan ditopang tiang-tiang (pilotis), sehingga tampak 'mengambang' di atas permukaan tanah tanpa banyak mengubah bentang alam.

Yang menarik, akses menuju villa juga dirancang agar bangunan baru terlihat ketika pengunjung berada di beberapa meter terakhir perjalanan. Menurut para arsitek, pendekatan ini merupakan penerapan prinsip biomimikri dan desain kontekstual, yakni merancang bangunan dengan mengambil inspirasi dari alam serta menyesuaikannya dengan kondisi geologi, topografi, dan ekosistem setempat.

Material yang digunakan pun sebagian besar berasal dari sekitar lokasi, seperti batu calcrete dari tambang lokal dan kayu dari pohon mati yang ditemukan di kawasan tersebut. Cara ini membantu mengurangi jejak karbon akibat pengangkutan material dari tempat jauh.

Selain mengurangi dampak visual, bangunan yang menyatu dengan lanskap juga dapat membantu menjaga suhu ruang tetap stabil. Warna alami dan material lokal menyerap serta melepaskan panas lebih baik dibandingkan material buatan yang kontras dengan lingkungan gurun.

Konsep arsitektur tak terlihat kini mulai banyak diterapkan pada proyek-proyek di kawasan alam sensitif, mulai dari gurun, pegunungan, hingga kawasan konservasi. Alih-alih menjadikan bangunan sebagai pusat perhatian, pendekatan ini berusaha membuat manusia menjadi tamu yang menghormati bentang alam.

Bagi ilmuwan lingkungan dan arsitek, desain semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan modern tidak selalu harus mengubah wajah alam. Dengan memahami geologi, iklim, dan karakter ekosistem setempat, bangunan justru dapat menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari lanskapnya.



(rns/rns)




Hide Ads