Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Super El Nino 2026 Diprediksi Makin Ganas, Ini Penjelasan Pakar BRIN

Super El Nino 2026 Diprediksi Makin Ganas, Ini Penjelasan Pakar BRIN


Rachmatunnisa - detikInet

El Nino Terkuat dalam Seabad Kian Dekat, Apa Dampaknya?
Ilustrasi cuaca ekstrem dampak El Nino. Foto: DW (News)
Jakarta -

Fenomena Super El Nino 2026 diperkirakan akan semakin menguat dalam beberapa pekan ke depan. Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menyebut El Nino tahun ini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan peristiwa serupa pada 2023 dan bahkan diprediksi mencapai kategori Super El Nino pada Agustus 2026.

Hal tersebut disampaikan Erma melalui unggahan di akun X pribadinya pada 24 Juli 2026. Ia mengatakan lembaga cuaca ekstrem Eropa kini juga telah menyoroti potensi Super El Nino beserta perubahan sirkulasi atmosfer yang ditimbulkannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Akhirnya, lembaga resmi cuaca ekstrem Eropa telah menyebut Super El Nino dan konsekuensi perubahan sirkulasi atmosfer yang dipicunya," tulis Erma seperti dikutip dari akun X @EYulihastin, Senin (27/7/2026)

Menurut Erma, intensitas El Nino terus meningkat. Hingga pembaruan pada 19 Juli 2026, indeks El Nino telah mencapai 1,74 derajat Celsius, yang menandakan status El Nino kuat dan bahkan telah melampaui puncak El Nino 2023.

"Sesuai prediksi, intensitas El Nino terus meningkat dan kini telah masuk kategori El Nino kuat (1,74Β°C), bahkan ini belum mencapai puncaknya. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan puncak El Nino 2023. Sudah dapat dipastikan El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023, begitu pula dampak yang ditimbulkannya," jelasnya.

Erma menjelaskan, penguatan El Nino akan memicu pembentukan badai tropis yang lebih sering dan lebih intens di Samudra Pasifik. Saat ini, satelit Himawari telah mendeteksi lima sistem badai di kawasan tersebut, dua di antaranya berkembang menjadi siklon tropis.

Menurutnya, badai-badai tersebut berpotensi memicu banjir di kawasan Amerika, Filipina, hingga negara-negara lintang menengah belahan bumi utara. Sebaliknya, Indonesia justru diperkirakan mengalami kondisi yang berlawanan.

"Indonesia akan menjadi wilayah bayangan hujan (rain shadow) dari Samudra Pasifik, sehingga akan dilanda kekeringan yang semakin meluas dari hari ke hari," tulis Erma.

Ia menambahkan, berdasarkan data dari Bureau of Meteorology (BOM) Australia dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), El Nino diproyeksikan terus menguat hingga mencapai kategori Super El Nino pada Agustus 2026.

Erma mengatakan pemanasan yang terlihat di permukaan laut sebenarnya belum menggambarkan kondisi sesungguhnya. Lapisan bawah permukaan laut, menurutnya, menyimpan panas dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan lapisan permukaan.

"Pemanasan di permukaan Samudra Pasifik tidak ada apa-apanya dibandingkan pemanasan di lapisan bawah permukaan laut yang dua hingga tiga kali lebih panas. Suhu tertingginya bahkan mencapai 9Β°C," rincinya.

Ia menjelaskan, kelebihan panas tersebut pada akhirnya akan berpindah ke permukaan laut, kemudian dilepaskan ke atmosfer. Proses inilah yang diyakini akan terus memperkuat El Nino dalam beberapa bulan mendatang.

"Karena itulah Super El Nino dipastikan akan terjadi dan suhu permukaan laut akan terus meningkat secara bertahap," ujarnya.

Menurut Erma, para ilmuwan juga menaruh perhatian besar pada karakter El Nino 2026 yang berkembang sangat cepat atau rapid developing. Ia menyebut sejak Februari 2026 hingga sekarang, intensitas El Nino meningkat sekitar 0,2Β°C setiap pekan tanpa mengalami pelemahan ataupun stagnasi seperti yang terjadi pada El Nino 2023.

"Kenaikannya terjadi pada skala mingguan sekitar 0,2Β°C sejak Februari 2026 hingga sekarang. Tidak ada fluktuasi sama sekali seperti pada 2023 yang sempat melemah atau stagnan. Pertumbuhan yang agresif ini menunjukkan 'keganasan' El Nino 2026," sebut Erma.

Selain itu, Erma mengatakan pemanasan lapisan laut saat ini juga lebih luas dibandingkan saat El Nino besar pada 1997. Meski demikian, prediksi iklim masih dapat berubah seiring pembaruan data pengamatan atmosfer dan lautan.

Namun, Erma menilai tren yang terlihat saat ini menunjukkan potensi Super El Nino 2026 perlu diantisipasi secara serius karena dapat berdampak pada cuaca ekstrem, kekeringan, dan sektor pangan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.



(rns/rns)






Hide Ads