Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pernah Nggak Sih di Dunia Tidak Ada Perang?

Pernah Nggak Sih di Dunia Tidak Ada Perang?


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi Konflik Iran dan Amerika Serikat
Ilustrasi perang. Foto: EduRaw/Pexels
Jakarta -

Perang seolah tak pernah lepas dari sejarah umat manusia. Dari konflik antarkerajaan hingga perang modern, hampir setiap zaman meninggalkan catatan pertumpahan darah. Namun, benarkah manusia selalu hidup dalam perang?

Menurut para arkeolog dan sejarawan, jawabannya bergantung pada bagaimana kata 'perang' didefinisikan. Jika yang dimaksud adalah konflik yang melibatkan negara atau pemerintahan, maka sebagian besar sejarah manusia justru berlangsung tanpa perang.

"Selama hampir 99% sejarah manusia belum ada pemerintahan," kata sejarawan dari Stanford University Ian Morris, dikutip dari Live Science, Kamis (23/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, penulis buku 'War! What Is It Good For? Conflict and the Progress of Civilization from Primates to Robots' ini menegaskan bahwa hal itu bukan berarti kehidupan manusia kala itu sepenuhnya damai.

"Kalau pertanyaannya apakah manusia pernah hidup tanpa kekerasan, jawabannya cukup jelas, tidak. Manusia selalu berkelahi dan saling membunuh," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Banyak peneliti berpendapat bahwa perang hampir tidak dikenal ketika manusia masih hidup sebagai pemburu-peramu nomaden. Peter Stearns, profesor emeritus sejarah di George Mason University, mengatakan bukti arkeologi mendukung pandangan tersebut.

"Hanya sedikit, bahkan mungkin tidak ada perang, dalam masyarakat pemburu-peramu sebelum munculnya pertanian," kata Stearns.

Kesimpulan itu berasal dari penelitian terhadap ribuan kerangka manusia purba di berbagai belahan dunia. Para arkeolog mencari tanda-tanda luka akibat peperangan, seperti bekas tusukan, sayatan, atau hantaman benda tumpul pada banyak individu yang dimakamkan bersama.

Hasilnya, bukti semacam itu hampir tidak ditemukan pada sisa-sisa manusia yang berumur lebih tua dari sekitar 8.000 SM. Bukti peperangan baru muncul lebih luas setelah manusia mulai menetap, bercocok tanam, dan membangun komunitas permanen.

Kekerasan Sudah Ada Sejak Lama

Meski begitu, bukan berarti manusia purba hidup sepenuhnya damai. Di situs arkeologi Nataruk, Kenya, misalnya, para peneliti menemukan 27 kerangka berusia sekitar 10.000 tahun yang menunjukkan tanda-tanda kematian akibat kekerasan. Sementara di Jebel Sahaba, Sudan, ditemukan jasad berusia sekitar 13.000 tahun dengan bekas serangan antarkelompok. Namun menurut Morris, peristiwa seperti itu belum tentu dapat disebut sebagai perang.

"Peneliti yang mempelajari perang biasanya mendefinisikannya sebagai kekerasan yang diorganisasi oleh pemerintah atau kekerasan kolektif yang menewaskan lebih dari jumlah tertentu," jelasnya.

Karena masyarakat prasejarah belum memiliki pemerintahan formal dan kelompoknya relatif kecil, banyak ahli tidak mengategorikan bentrokan tersebut sebagai perang.

Setelah kerajaan dan kekaisaran besar bermunculan, perang memang menjadi jauh lebih sering terjadi. Namun sejarah juga mencatat beberapa periode damai yang berlangsung cukup lama. Menurut Peter Frankopan, profesor sejarah dunia di University of Oxford, perdamaian biasanya tercipta ketika dua kekuatan besar memiliki kemampuan yang seimbang sehingga tidak ada pihak yang berani memulai perang.

"Perang itu mahal dan penuh risiko. Karena itu, pada banyak periode sejarah, stabilitas dan perdamaian tercapai ketika para pesaing, musuh, dan negara tetangga memiliki kekuatan yang seimbang," kata Frankopan.

Salah satu contohnya terjadi di Timur Tengah kuno sekitar 1400-1200 SM, ketika Mesir dan Kekaisaran Het berhasil menghindari perang besar melalui perjanjian diplomatik. Contoh lain adalah hubungan antara Romawi dan Persia yang relatif damai pada sekitar 387-501 M, serta perdamaian panjang antara China, Korea, dan Jepang pada sekitar 1600-1850, ketika negara-negara Eropa justru terus dilanda peperangan.

Meski ada sejumlah pengecualian, para ahli menilai perang tetap menjadi pola dominan sepanjang sejarah peradaban. Jared Morgan McKinney, peneliti hubungan internasional yang mengkaji periode-periode damai antarkekuatan besar, menyimpulkan bahwa perang pada dasarnya merupakan kondisi yang paling umum dalam sejarah manusia.

"Perang adalah sesuatu yang 'normal' dalam sejarah. Tetapi, seperti yang ditunjukkan berbagai contoh ini, selalu ada pengecualian terhadap pola tersebut," kata McKinney.

Dengan kata lain, jika yang dimaksud adalah perang yang melibatkan negara atau pemerintahan, manusia memang pernah melewati masa-masa panjang tanpa perang. Namun jika yang dimaksud adalah kekerasan antarmanusia, bukti arkeologi menunjukkan konflik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak masa prasejarah.



(rns/fay)






Hide Ads