Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pulau Ini Lebih Kecil dari Lapangan Bola, Dihuni Ribuan Orang

Pulau Ini Lebih Kecil dari Lapangan Bola, Dihuni Ribuan Orang


Rachmatunnisa - detikInet

Pulau Migingo, sebuah pulau batu mungil di Danau Victoria yang berada di perbatasan Kenya dan Uganda.
Foto: The Sun/AFP
Jakarta -

Bayangkan sebuah pulau yang luasnya bahkan lebih kecil dari lapangan sepak bola, tetapi dihuni hingga hampir 1.800 orang. Pemandangan seperti itu benar-benar ada di Pulau Migingo, sebuah pulau batu mungil di Danau Victoria yang berada di perbatasan Kenya dan Uganda.

Luas Pulau Migingo hanya sekitar 2.000 meter persegi atau setengah hektare. Meski ukurannya sangat kecil, pulau ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Rumah-rumah seng berdiri berdempetan tanpa menyisakan banyak ruang terbuka, sementara gang-gang sempit menjadi satu-satunya akses bagi warga.

Dikutip dari The Sun, kondisi hidup di Migingo jauh dari kata nyaman. Pulau ini tidak memiliki jaringan air bersih, sistem pembuangan limbah, maupun rumah sakit. Akses internet juga sangat terbatas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Travel content creator Kieran Brown, yang mengunjungi pulau tersebut, menggambarkan kondisi Migingo sebagai tempat yang penuh keterbatasan. "Di sini tidak ada air mengalir, tidak ada sistem pembuangan limbah, bahkan tidak ada rumah sakit," ujar Brown saat memperlihatkan gang-gang sempit di pulau tersebut.

Meski begitu, kehidupan di Migingo tetap berjalan nyaris tanpa henti. Warga membangun toko kelontong, apotek, salon, tempat pangkas rambut, bar, hingga kasino kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

Alasan utama orang rela tinggal berdesakan di pulau sekecil itu adalah ikan Nile perch (ikan nila raksasa Afrika) yang hidup melimpah di perairan sekitar Danau Victoria. Ikan tersebut menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi, sehingga kawasan di sekitar Migingo berubah menjadi salah satu lokasi penangkapan ikan paling menguntungkan di Afrika Timur.

Brown menjelaskan bahwa nilai ekonomi kawasan ini sangat besar. "Perairan di sekitar Pulau Migingo dipenuhi ikan Nile perch, dan ikan ini bernilai jutaan dolar dalam perdagangan ekspor. Siapa yang menguasai Migingo berarti menguasai sumber uangnya," katanya.

Setiap hari, ratusan nelayan berangkat melaut dari pulau ini. Hasil tangkapan mereka dipasarkan ke Kenya, Uganda, hingga negara lain. Nilai tangkapan ikan harian bahkan diperkirakan bisa mencapai sekitar Β£6.000 atau lebih dari Rp130 juta.

Nilai ekonomi yang besar membuat Migingo menjadi sumber sengketa antara Kenya dan Uganda. Menurut batas kolonial tahun 1926, pulau tersebut berada di wilayah Kenya. Namun sejak 2004, Uganda juga mengklaim pulau itu dan sempat menempatkan aparat keamanan serta memungut pajak dari para nelayan.

Perselisihan ini bahkan dijuluki 'perang terkecil di Afrika' karena memperebutkan wilayah yang luasnya hanya sekitar 2.000 meter persegi. Pada 2009, kedua negara sepakat mengelola kawasan tersebut secara bersama. Kesepakatan itu kemudian diperkuat melalui nota kesepahaman pada 2025 yang mengatur kerja sama perizinan penangkapan ikan untuk meredakan ketegangan.

Meski pemerintah Kenya dan Uganda masih berbeda pandangan mengenai status Migingo, kehidupan warga di pulau itu justru berlangsung relatif damai. Mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan atau pedagang ikan. Mereka berasal dari Kenya, Uganda, bahkan Tanzania, dan hidup berdampingan tanpa banyak mempersoalkan batas negara.

Bagi mereka, keberadaan ikan jauh lebih penting daripada sengketa politik. Di atas pulau batu yang lebih kecil dari lapangan sepak bola itu, ribuan orang membangun kehidupan, mencari nafkah, dan membentuk komunitas yang unik di salah satu tempat paling padat di dunia.



(rns/rns)




Hide Ads