Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Trump Ngebet Kuasai Greenland, Ada Sumber Daya Alam Tak Terduga

Trump Ngebet Kuasai Greenland, Ada Sumber Daya Alam Tak Terduga


Aisyah Kamaliah - detikInet

U.S. President Donald Trump reacts as he speaks to the media on the day of a NATO leaders summit in Ankara, Turkey, July 8, 2026. REUTERS/Umit Bektas
Foto: REUTERS/Umit Bektas
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih saja bersikeras untuk mengambil Greenland. Saat menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) NATO di Turki belum lama ini, Trump mengulang pendapatnya dengan mengatakan Denmark tak cukup banyak berbuat untuk pulau itu.

"Greenland seharusnya dikendalikan Amerika Serikat, bukan Denmark," ujar Trump. Dia kecewa karena Denmark disebut tak mengeluarkan uang untuk membantu Greenland, padahal wilayah itu penting bagi AS.

Dikutip detikINET dari BBC, Greenland dipercaya sebagai juara dalam penyimpan cadangan minyak dan gas alam. Pulau ini juga dikatakan sebagai rumah bagi sebagian besar bahan baku yang dianggap penting untuk elektronik, energi hijau, dan teknologi strategis dan militer lainnya, sektor yang didorong Trump untuk digenjot besar-besaran.


Secara keseluruhan, 25 dari 34 mineral yang dianggap sebagai bahan baku penting oleh Komisi Eropa ditemukan di Greenland, termasuk grafit, niobium, dan titanium, menurut Survei Geologi Denmark dan Greenland tahun 2023. Kendati demikian Trump mengaku itu bukan tujuannya dalam mencaplok Greenland.

"Saya menginginkan Greenland untuk keamanan, saya tidak menginginkannya untuk hal lain," ungkapnya kepada wartawan di Forum Ekonomi Dunia di Davos.

"Anda harus turun sedalam 25 kaki menembus es untuk mendapatkannya. Itu bukan sesuatu yang akan dilakukan atau diinginkan banyak orang," sambungnya.

Namun, tak dimungkiri bahwa akses ke sumber daya alam pulau itu menjadi perhatian utama pemerintahan AS. Bahkan, Steven Lamy, profesor hubungan internasional di University of Southern California menyebut ketertarikan Trump mengendalikan Greenland adalah terutama tentang akses ke sumber daya tersebut dan menghalangi akses China.

Bahkan sebelum masa jabatan kedua Trump, AS telah mempererat hubungannya dengan Greenland, termasuk dengan membuka kembali konsulatnya di ibu kota pulau itu, Nuuk, pada tahun 2020. Langkah ini sebagai respons terhadap perluasan kehadiran militer Rusia dan China di Arktik.

Sejak Trump kembali menjabat, sekutunya telah membicarakan potensi komersial pulau itu. Kenaikan suhu memperluas jalur laut dan peluang untuk mengeksplorasi perikanan serta sumber daya alam lainnya di wilayah tersebut, terutama yang terkait dengan pertahanan, seperti energi dan mineral penting.

"Ini tentang jalur pelayaran. Ini tentang energi. Ini tentang perikanan. Dan, tentu saja, ini tentang misi Anda, yaitu menjaga kita tetap aman dan memantau ruang angkasa, memantau musuh kita, dan memastikan rakyat Amerika dapat tidur dengan aman di rumah mereka, siang dan malam," kata Mike Waltz, duta besar AS untuk PBB saat ini dan penasihat keamanan nasional Trump saat itu, kepada pasukan AS yang ditempatkan di Greenland tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



(ask/fyk)




Hide Ads