Matahari buatan China makin mendekati kenyataan. Targetnya, pada 2030, terobosan tersebut sudah dapat menghasilkan listrik pertama kalinya.
China telah lama berupaya dalam mengembangkan fusi nuklir komersial. Kini, dua magnet superkonduktor yang dikembangkan di dalam negeri untuk reaktor fusi telah lulus uji penerimaan teknis dan uji beban penuh, seperti yang dilaporkan oleh China Central Television (CCTV).
Perangkat eksperimental fusi kompak, yang salah satu magnetnya merupakan komponen inti, dijadwalkan akan selesai pada akhir tahun 2027, dengan tujuan untuk mendemonstrasikan listrik yang dihasilkan dari fusi nuklir pertama di negara itu sekitar tahun 2030.
Dua magnet superkonduktor utama untuk reaktor fusi di Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), yang juga dikenal sebagai 'matahari buatan', telah berhasil menyelesaikan uji penerimaan pengembangan dan pengujian parameter penuh. Hal ini menandai lokalisasi penuh semua teknologi inti proyek tersebut, seperti dikutip detikINET dari Global Times, Minggu (12/7/2026).
Qin Jinggang, wakil direktur Chinese Academy of Sciences' Institute of Plasma Physics (ASIPP), mengatakan kepada CCTV bahwa ketika timnya ditugaskan proyek ini enam tahun lalu, mereka diberi dua tujuan yang jelas: meningkatkan kinerja dan mengurangi biaya. Pada saat itu, desain teknik hingga pengadaan material bahkan masih belum pasti.
Setelah enam tahun penelitian dan pengembangan intensif, tim tersebut tidak hanya mencapai peningkatan kinerja yang signifikan. Mereka berhasil melokalisasi seluruh rantai pasokan dan peralatan produksi, kata Qin.
Biaya material superkonduktor juga turun tajam. Satu meter material, yang dulunya berharga sekitar 400 yuan, sekarang berharga sekitar 100 yuan.
Yang lebih penting, terjadi lompatan signifikan dalam skala. Dibandingkan dengan desain sebelumnya, ukurannya jauh lebih besar dalam hal berat, dimensi, dan kapasitas penyimpanan energi. Berat satu kumparan telah meningkat dari 350 ton menjadi 580 ton, membuka jalan bagi perangkat fusi yang mampu beroperasi pada tingkat energi yang jauh lebih tinggi.
Qin memperingatkan bahwa lulus uji terbaru hanya menandai 80% dari perjalanan. Masih ada tantangan untuk memasang kumparan di perangkat dan memverifikasi stabilitas jangka panjang serta masa pakainya di bawah kondisi operasi yang tak mudah.
"Hanya setelah lulus uji tersebut kita dapat mengatakan bahwa kita benar-benar telah menguasai teknologi superkonduktor suhu tinggi," ujarnya.
China telah terus mempercepat kemajuan menuju fusi nuklir komersial dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2025, proyek 'matahari buatan' mempertahankan suhu plasma 100 juta derajat Celcius selama 1.066 detik, menetapkan rekor dunia baru.
"Fusi nuklir tidak dapat disangkal merupakan salah satu teknologi yang paling sulit dikuasai," jabar Qin.
"Namun setelah puluhan tahun mengalami kemajuan, kita akhirnya mulai melihat cahaya di ujung terowongan. Tujuan kita tetap tidak berubah: untuk mendemonstrasikan pembangkitan listrik pertama kita dari fusi nuklir sekitar tahun 2030," tutupnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(ask/fay)

