Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Misteri Perempuan yang Terkubur di Antartika 200 Tahun Lalu

Misteri Perempuan yang Terkubur di Antartika 200 Tahun Lalu


Fino Yurio Kristo - detikInet

UNSPECIFIED, ANTARCTICA - NOVEMBER 04:  Mountain peaks are seen from NASAs Operation IceBridge research aircraft in the Antarctic Peninsula region, on November 4, 2017, above Antarctica. NASAs Operation IceBridge has been studying how polar ice has evolved over the past nine years and is currently flying a set of nine-hour research flights over West Antarctica to monitor ice loss aboard a retrofitted 1966 Lockheed P-3 aircraft. According to NASA, the current mission targets sea ice in the Bellingshausen and Weddell seas and glaciers in the Antarctic Peninsula and along the English and Bryan Coasts. Researchers have used the IceBridge data to observe that the West Antarctic Ice Sheet may be in a state of irreversible decline directly contributing to rising sea levels. The National Climate Assessment, a study produced every 4 years by scientists from 13 federal agencies of the U.S. government, released a stark report November 2 stating that global temperature rise over the past 115 years has been primarily caused by human activities, especially emissions of greenhouse gases.  (Photo by Mario Tama/Getty Images)
Foto: Mario Tama/Getty Images
Jakarta -

Selain di stasiun penelitian atau ekspedisi sesekali, manusia tidak pernah menetap di Antartika. Meski ada bukti benua ini dulu hutan hujan, rawa, dan ada dinosaurus, saat manusia purba berhasil keluar dari Afrika benua ini sudah terlalu dingin dan terpencil untuk mendukung tempat tinggal manusia tanpa peralatan modern.

Terdapat dugaan penjelajah Polinesia Hui Te Rangiora dalam legenda Maori, mencapai benua tersebut abad ketujuh Masehi. Legenda itu menyebut sang pelaut tiba di tempat berkabut, berasap, dan gelap yang tidak tersentuh Matahari serta lingkungan yang gersang dan sedingin es. Ini membuat peneliti menduga mereka mungkin melintasi perairan Antartika, bahkan melihat benua itu.

Namun penampakan Antartika terkonfirmasi baru terjadi tahun 1820, ketika penjelajah Rusia Thaddeus von Bellingshausen mendeskripsikan penampakan pantai es saat ekspedisinya ke Antartika. Beberapa dekade dan abad berikutnya, manusia menjelajahi benua itu lebih jauh, terkadang dengan mengorbankan nyawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Itulah mengapa sangat aneh ketika tahun 1980-an, seorang ilmuwan menemukan sisa-sisa jasad manusia di Antartika dari seseorang yang diperkirakan meninggal antara tahun 1819 dan 1825.

Penemuan Tengkorak

"7 Januari 1985, pukul 16:35, saat proses pengumpulan sampah laut di Pantai Yamana di pesisir Tanjung tersebut, saya melakukan penemuan pertama sisa manusia: sebuah tengkorak setengah terkubur di sektor pantai berpasir yang berbatu," jelas Daniel Torres Navarro, Profesor Biologi dan Ilmu Alam di University of Chile.

"Hanya bagian belakang kepala terlihat, sementara bagian frontal, hidung dan rahang atas, dan parietal terkubur dalam pasir. Permukaan area yang terpapar berwarna kehijauan karena perkembangbiakan mikroalga. Meski demikian setelah diangkat, masih memungkinkan untuk menemukan dua fragmen rahang atas dengan beberapa gigi yang terawetkan dengan baik," imbuhnya.

Pemeriksaan awal menunjukkan tengkorak tersebut milik individu muda, kemungkinan besar perempuan. Torres dan rekannya kembali menyelidiki situs tersebut dan area sekitarnya bertahun-tahun, lalu menemukan tulang-tulang lain termasuk tulang paha di situs terdekat. Tim tersebut menduga kerangka lain tersebar luas di seluruh Pantai Yamana.

Menurut analisis tim, perempuan itu kemungkinan berasal dari Chile, dan meninggal antara tahun 1819 dan 1825. Bagaimana ia bisa sampai di sana, dan mungkin bahkan mendahului Thaddeus von Bellingshausen dalam melihat benua tersebut?

"Beralih ke kemungkinan asal-usul sisa-sisa manusia ini, saya ingin mengajukan hipotesis bahwa, karena alasan yang tidak diketahui, perempuan tersebut mungkin adalah anggota kelompok pemburu anjing laut abad ke-19 yang menelantarkannya di lokasi tersebut," jelas Torres.

"Kemungkinan lainnya adalah ia meninggal di atas kapal dan dimakamkan di laut, seperti kebiasaan masa itu. Ini bisa menyebabkan jasadnya terbawa arus dan badai ke pantai, tempat jasadnya dikonsumsi hewan pemakan bangkai," sebutnya.

Dikutip detikINET dari IFL Science, burung-burung itu mungkin memisahkan tengkorak dari anggota tubuh lain. Tulang-tulang itu kemudian bisa saja tersebar di area yang luas dan terkubur di bawah pasir.



(fyk/afr)






Hide Ads