Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Microsoft Habiskan Rp 1.400 Triliun Demi Xbox, Endingnya Geleng Kepala

Microsoft Habiskan Rp 1.400 Triliun Demi Xbox, Endingnya Geleng Kepala


Panji Saputro - detikInet

Microsoft resmi hentikan promo biaya langganan untuk anggota baru Xbox Game Pass Ultimate dan PC Game Pass. Kini, harganya bukan lagi USD 1 atau sekitar Rp 15 ribu.
Microsoft. Foto: Getty Images/Christian Petersen
Jakarta -

Microsoft telah berupaya sangat keras untuk memajukan Xbox selama beberapa tahun ini. Namun sayang, ungkapan 'usaha tidak akan mengkhianati hasil' belum mereka rasakan, mengingat target masih jauh dari harapan.

Bloomberg melaporkan, Kamis (9/7/2026), bahwa raksasa teknologi tersebut telah menghabiskan setidaknya hampir USD 80 miliar atau sekitar Rp 1.442 triliun dalam 10 tahun terakhir, yang bertujuan menghidupkan kembali Xbox dan mewujudkan mimpi mereka untuk Game Pass. Bagaimana hasilnya? Mengecewakan.

CEO Xbox, Asha Sharma, mengatakan bahwa taruhan besar tersebut dilakukan di bawah kepemimpinan sebelumnya, yang saat itu melakukan beberapa strategi termasuk mengakuisisi studio dan merilis game di platform gaming pesaingnya. Dirinya mengaku, upaya-upaya ini memang menghasilkan nilai berarti bagi perusahaan, tetapi tidak cukup untuk menutupi pertumbuhan yang ditargetkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Untuk mencapai tujuan tersebut, Microsoft menyatakan dalam proses akuisisi Activision, menargetkan memiliki 77 juta pelanggan Game Pass pada akhir tahun fiskal 2026. Itu berarti terjadi pada 30 Juni. Lalu berapa jumlahnya? Hanya 30 juta.

Jika melihat angka tersebut memang terkesan sangat banyak, namun kenyataannya masih sangat jauh dari target. Bahkan jumlah tersebut telah mengalami penurunan 4 juta pelanggan dari laporan terakhir Microsoft terkait layanannya.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi karyawan Xbox. Kepala strategi Xbox, Matthew Ball, mengungkapkan pada bulan Juni tahun ini bahwa "jutaan" orang membatalkan langganan Game Pass, setelah kenaikan harga hingga 50% yang diumumkan pada Oktober 2025.

Lantas apa yang terjadi dengan Game Pass? Ternyata strategi membayar untuk periode tertentu dan bebas memainkan game apa saja yang ada di dalamnya, masih belum berhasil menarik minat gamer.

Analis Circana, Mat Piscatella, memberikan pendapatnya tentang situasi yang dihadapi Game Pass. Menurutnya, Game Pass gagal, karena Fortnite dan sejumlah game lain dengan strategi sejenis lebih berhasil menahan gamer memainkannya lebih lama dan mampu mendorong mereka menggelontorkan uang untuk melakukan pembelian di dalam permainan.

"Masalah dengan Game Pass bukanlah layanannya sendiri, melainkan tujuan untuk menjual langganan dan layanan, seperti yang diincar Microsoft di seluruh bisnisnya saat itu. Call of Duty diluncurkan di Game Pass dan tidak secara signifikan meningkatkan jumlah pelanggan, dan hanya berdampak kecil pada penjualan perangkat keras. Dan hanya itu saja." katanya.

Bloomberg juga melaporkan bahwa mantan presiden Xbox, Sarah Bond, adalah pemimpin strategi Game Pass Xbox. Kabarnya Microsoft menghabiskan USD 1 miliar setiap tahun untuk kesepakatan game pihak ketiga, supaya bisa meyakinkan orang untuk mendaftar Game Pass. Upaya lain untuk memperluas Game Pass, seperti menawarkannya kepada basis pengguna PC yang besar dan pasar streaming.

Mengenai pengeluaran sebesar USD 80 miliar, berasal dari akuisisi besar-besaran Microsoft atas Activision Blizzard USD 75,4 miliar dan ZeniMax USD 7,5 miliar, serta pembelian pengembang seperti Ninja Theory, Obsidian, dan Double Fine. Langkah ini merupakan inisiatif mantan eksekutif Xbox, Phil Spencer, untuk meningkatkan basis studio guna menciptakan lebih banyak game yang dapat dimainkan oleh anggota Game Pass sebagai bagian dari biaya keanggotaan mereka.



(hps/fay)






Hide Ads