Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ini Sebabnya Antartika Membeku dan Jadi Wilayah Es Sampai Sekarang

Ini Sebabnya Antartika Membeku dan Jadi Wilayah Es Sampai Sekarang


Rachmatunnisa - detikInet

Antartika
Antartika (Foto: via Daily Mail)
Jakarta -

Selama puluhan tahun, para ilmuwan meyakini menurunnya kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer menjadi penyebab utama Antartika membeku sekitar 34 juta tahun lalu. Namun, penelitian terbaru menunjukkan ada faktor lain yang tak kalah penting, pergerakan lempeng benua dan proses geologi jauh di dalam perut Bumi.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkap bahwa gelombang di mantel Bumi (mantle waves) mengangkat daratan Antartika Timur hingga membentuk pegunungan dan dataran tinggi. Ketinggian inilah yang memungkinkan salju bertahan sepanjang tahun dan akhirnya membentuk lapisan es raksasa, jauh sebelum Kutub Utara ikut membeku.

Yang membuat temuan ini menarik, Antartika mulai membeku ketika suhu Bumi saat itu diperkirakan masih sekitar 5 derajat Celsius lebih hangat dibanding sekarang. Sementara itu, wilayah Arktik baru memiliki lapisan es permanen puluhan juta tahun kemudian. Fenomena ini selama ini menjadi salah satu misteri terbesar dalam ilmu iklim Bumi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini, banyak ilmuwan beranggapan bahwa penurunan kadar CO2 cukup untuk menjelaskan terbentuknya lapisan es di Antartika. Namun menurut penelitian terbaru, jika hanya CO2 yang berperan, seharusnya kedua kutub membeku pada waktu yang hampir bersamaan.

Prof. Thomas Gernon, Profesor Ilmu Kebumian di University of Southampton sekaligus penulis utama penelitian, mengatakan proses geologi membuat Antartika memperoleh 'keunggulan' dibanding Kutub Utara.

ADVERTISEMENT

"Jika penurunan kadar CO2 terjadi sendirian, Anda akan mengharapkan kedua kutub merespons secara lebih simetris. Sebaliknya, Antartika memperoleh keunggulan besar karena proses geologi mengangkat daratannya ke ketinggian yang lebih tinggi sehingga menjadi lebih dingin," ujar Gernon seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (9/7/2026).

Tim peneliti menggunakan model komputer untuk merekonstruksi perubahan bentang alam Antartika selama sekitar 100 juta tahun terakhir. Mereka menemukan bahwa proses tersebut berawal ketika superbenua Gondwana mulai terpecah. Saat Antartika dan Afrika saling menjauh pada Periode Jura sekitar 201-143 juta tahun lalu, muncul gangguan lambat di mantel Bumi yang disebut mantle waves.

Gelombang ini secara perlahan mengangkat kerak Bumi di Antartika Timur hingga membentuk tebing pesisir, dataran tinggi, serta Pegunungan Gamburtsev yang kini terkubur di bawah lapisan es setebal lebih dari satu kilometer.

Sekitar 45 juta tahun lalu, sebagian besar wilayah Antartika Timur telah mencapai ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 kilometer, batas yang memungkinkan salju bertahan sepanjang tahun dan berkembang menjadi lapisan es permanen.

Dr. Thea Hincks, Senior Research Fellow di University of Southampton sekaligus salah satu penulis studi, mengatakan model yang dikembangkan tim mampu merekonstruksi pembentukan bentang alam Antartika dengan cukup akurat.

"Model kami berhasil menggambarkan evolusi tebing pesisir setinggi dua kilometer, dataran tinggi, dan pegunungan di pedalaman yang pada akhirnya menjadi tempat awal terbentuknya Lapisan Es Antartika Timur," kata Hincks.

Sementara itu, Dr. Guy Paxman, penulis studi sekaligus Royal Society University Research Fellow di Durham University, menjelaskan bahwa topografi memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan gletser.

"Topografi sangat penting bagi proses pembentukan lapisan es. Suhu udara dapat turun hingga sekitar 10 derajat Celsius setiap kenaikan ketinggian 100 meter," ujarnya.

Menurut para peneliti, hasil studi ini menunjukkan bahwa sejarah iklim Bumi tidak hanya ditentukan oleh atmosfer, tetapi juga oleh proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan planet.

Pergerakan lempeng tektonik, pembentukan pegunungan, dan dinamika mantel Bumi ternyata dapat menentukan kapan sebuah wilayah mencapai kondisi yang cukup dingin untuk mempertahankan lapisan es dalam jangka panjang.

Temuan ini juga membantu menjelaskan mengapa Kutub Utara membeku jauh lebih lambat dibanding Antartika. Tidak seperti Antartika yang merupakan benua dengan dataran tinggi, Kutub Utara sebagian besar berupa samudra sehingga tidak memiliki bentang alam tinggi yang dapat menjadi tempat terbentuknya lapisan es permanen sejak awal.



(rns/fay)






Hide Ads