Komet 2P/Encke kembali mendekati Bumi pada tahun ini. Meski menjadi salah satu komet periodik paling terkenal di Tata Surya, penampilannya kali ini diperkirakan tidak akan secantik yang pernah terjadi pada 20 April 2007.
Saat itu, wahana STEREO-A milik NASA merekam peristiwa yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Ekor Komet Encke tiba-tiba 'terputus' setelah dihantam coronal mass ejection (CME) atau lontaran massa korona dari Matahari. Peristiwa langka tersebut menjadi salah satu pengamatan komet paling ikonik dalam sejarah astronomi.
Lontaran massa korona merupakan semburan besar plasma dan medan magnet dari Matahari. Ketika CME menghantam Komet Encke pada 2007, tekanan medan magnet Matahari membuat ekor ion komet terlepas dari intinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski terdengar dramatis, komet tersebut tidak hancur. Material baru yang terus menguap dari inti komet kemudian membentuk ekor baru hanya dalam waktu singkat.
"Ketika komet yang mengorbit Matahari setiap 3,3 tahun itu dihantam CME, ekornya terputus sepenuhnya," tulis laporan yang dikutip dari IFLScience dilansir Rabu (8/7/2026).
Peristiwa itu menjadi bukti bahwa angin Matahari dan aktivitas magnetiknya dapat mengubah bentuk komet secara drastis dalam waktu sangat singkat.
Meski Encke kembali mendekati Bumi pada 2026, para astronom memperkirakan tidak akan ada fenomena spektakuler seperti pada 2007. Komet ini memang dapat diamati tahun ini, tetapi tidak akan mengalami peristiwa luar biasa yang membuatnya tampak begitu dramatis.
Selain itu, posisi Encke di langit juga kurang menguntungkan bagi pengamat di belahan Bumi utara karena berada relatif dekat dengan Matahari pada sebagian besar kemunculannya.
Encke merupakan salah satu komet paling unik di Tata Surya. Menurut NASA, komet ini hanya membutuhkan sekitar 3,3 tahun untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi Matahari. Itu menjadikannya komet periodik dengan periode orbit terpendek yang diketahui saat ini.
Inti komet berdiameter sekitar 4,8 kilometer, jauh lebih kecil dibandingkan asteroid yang diduga menyebabkan kepunahan dinosaurus. Namun, setiap kali mendekati Matahari, panas membuat es di permukaannya menguap dan melepaskan gas serta debu yang membentuk koma dan ekor khas komet.
Selain penampilannya, Encke juga dikenal sebagai induk dari hujan meteor Taurid, yang setiap tahun menghiasi langit pada sekitar Oktober hingga November.
Hujan meteor tersebut berasal dari serpihan debu yang ditinggalkan komet di sepanjang lintasan orbitnya. Ketika Bumi melintasi jalur itu, partikel-partikel kecil memasuki atmosfer dan terbakar, menghasilkan meteor yang tampak melesat di langit malam.
Meski penampakan Encke tahun ini diperkirakan tidak akan menjadi pertunjukan langit yang luar biasa, komet ini tetap menarik perhatian astronom. Selain memiliki periode orbit yang sangat singkat, Encke juga pernah memperlihatkan bagaimana aktivitas Matahari mampu 'memutus' ekor komet, fenomena langka yang hingga kini masih menjadi salah satu pengamatan paling terkenal dalam dunia astronomi.