Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Komet Langka dari Ujung Tata Surya Datangi Bumi, Ini Keistimewaannya

Komet Langka dari Ujung Tata Surya Datangi Bumi, Ini Keistimewaannya


Fino Yurio Kristo - detikInet

Komet 41P/Tuttle–Giacobini–Kresak, terlihat pada bulan April 2017.
Ilustrasi komet. Foto: Chris Schur/NASA Goddard Space Flight Center
Jakarta -

Selama ribuan tahun, astronom menyaksikan Komet Halley datang dan pergi, terlihat oleh mata telanjang setiap 72 hingga 80 tahun sekali. Hal tersebut menjadikannya komet periode pendek. Terakhir kali kita melihatnya adalah tahun 1986, sementara kemunculan berikutnya dijadwalkan pertengahan tahun 2061.

Komet-komet lain perlu waktu jauh lebih lama untuk mengorbit Matahari. Seperti dilaporkan New York Times, komet C/2025 R3 PANSTARRS, yang baru ditemukan tahun lalu, terlihat para pengamat bintang di belahan Bumi utara selama berminggu-minggu. Namun begitu bergerak menjauh, komet ini diperkirakan baru kembali 170.000 tahun ke depan.

Asal-usulnya sangat menarik perhatian astronom. Mereka meyakini komet tersebut berasal dari Awan Oort, cangkang bundar raksasa yang menyelimuti Tata Surya, yang mewakili batas terluar dari pengaruh gravitasi bintang kita. Para peneliti percaya wilayah tersebut dipenuhi objek es dan batu seperti C/2025 R3 PANSTARRS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komet periode panjang adalah pemandangan amat langka sekaligus kesempatan menarik untuk melihat sekilas bagian terjauh Tata Surya. "Kapan pun kita melihatnya, itu adalah pertama kalinya kita melihat mereka, dan itu juga menjadi satu-satunya momen kita akan melihatnya seumur hidup," ujar Josh Aoraki, astronom di Te Whatu Stardome di Selandia Baru, kepada NYT.

Apakah peradaban di masa depan akan dapat melihat pengunjung ini lagi, tidak bisa dijamin. Seperti yang diungkapkan oleh Matt Woods dari Observatorium Perth, interaksi gravitasi dengan planet-planet dapat menendang komet keluar dari sistem Tata Surya kita sepenuhnya.

ADVERTISEMENT

Mengingat dugaan asal-usulnya, mempelajari komet seperti C/2025 R3 PANSTARRS dapat memberi petunjuk sangat menarik tentang masa awal Tata Surya. Teori saat ini menunjukkan bahwa potongan-potongan kecil sisa materi pembentuk planet yang berumur miliaran tahun, terdorong menjauh dari Matahari saat planet-planet terbentuk.

Sementara beberapa di antaranya meninggalkan sistem Tata Surya sepenuhnya, yang lain terperangkap di wilayah di mana pengaruh galaksi seimbang dengan gravitasi Matahari, sebuah wilayah yang sekarang dikenal sebagai Awan Oort.

Pergerakan objek-objek ini mungkin turut berperan mengantarkan elemen-elemen dasar yang diperlukan yang memungkinkan terbentuknya kehidupan di Bumi. Dengan kata lain, ada banyak alasan untuk segera mengeluarkan teleskop sebelum C/2025 R3 PANSTARRS menjadi terlalu jauh untuk dilihat.

"Jadi meskipun C/2025 R3 PANSTARRS mungkin hanya terlihat seperti bercak kabur yang redup melalui teropong, ia mewakili sesuatu yang jauh lebih signifikan. Ia adalah peninggalan dari masa kelahiran Tata Surya, arsip beku dari sejarah kosmik dan untuk momen yang singkat dapat terlihat langsung dari sini, di Bumi," ucap Woods yang dikutip detikINET dari Futurism.




(fyk/fyk)
TAGS






Hide Ads