Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sel Buatan Manusia Ini Bisa Makan, Tumbuh, dan Berkembang Biak

Sel Buatan Manusia Ini Bisa Makan, Tumbuh, dan Berkembang Biak


Fino Yurio Kristo - detikInet

Sel sintetis
Foto: CNN
Jakarta -

Imuwan mengatakan bahwa untuk pertama kalinya mereka membangun sebuah sel dari awal yang dapat makan, tumbuh, dan bereplikasi layaknya sel alami. Kate Adamala, ahli biologi sintetis dan profesor di University of Minnesota, bersama timnya merakit sel tersebut bagian demi bagian dari komponen kimia tak hidup.

Ciptaan ini merupakan prototipe rapuh, tapi dapat membantu ilmuwan memahami asal-usul kehidupan dengan lebih baik dan berpotensi diprogram untuk membantu memitigasi beberapa masalah biologis terbesar. Sel ini bersifat nonspesifik, bukan tumbuhan maupun hewan, namun paling mirip dengan bakteri sederhana.

"Saya tahu daftar lengkap bahan pembentuk sel tersebut, saya tahu persis bahan kimia apa, molekul apa, dan pada konsentrasi berapa. Sel ini terdefinisi sepenuhnya, yang berarti kita bisa merekayasanya," katanya dikutip detikINET dari CNN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sel adalah blok pembangun fundamental kehidupan, tapi jauh dari kata sederhana. Tubuh manusia memiliki 37 triliun sel, lebih banyak dari jumlah bintang dan ilmuwan masih belum tahu bagaimana setiap jenis sel yang berbeda bekerja atau apa yang terkandung di dalamnya.

"Membuat sel dari awal berarti tak terikat pada kendala dan beban evolusi biologi alami. Ini membuka kemungkinan merancang sistem dan memprogramnya agar melakukan hal-hal yang mungkin tidak mudah dilakukan sel hidup, atau bahkan tidak dapat dilakukannya sama sekali," kata Yuval Elani dari Imperial College London.

ADVERTISEMENT

Apakah ini kehidupan?

Adamala menamai ciptaannya SpudCell. Terdiri dari 150 hingga 200 molekul, SpudCell makan, tumbuh, dan bereplikasi selama sekitar lima generasi. Ia jauh lebih sederhana dibandingkan sel biologis yang menampung jutaan, atau bahkan miliaran molekul.

SpudCell masih organisme sangat lemah yang saat ini pada dasarnya tidak melakukan apa pun selain makan dan sesekali membuat sel anak. Setiap generasi butuh makanan dan memakan waktu sekitar 12 jam untuk bereplikasi pada suhu 30 derajat Celcius. Sebagai perbandingan, E. coli membelah diri setiap 30 menit.

Tom Ellis, profesor rekayasa genom sintetis Imperial College menyebutnya mungkin terobosan terbesar di bidang sel sintetis. "Membuat sel sintetis membantu kita memahami persyaratan minimum yang tepat untuk sebuah kehidupan dan bagaimana kehidupan mungkin muncul dari proses kimia," cetusnya.

SpudCell belum bisa dianggap kehidupan. "Kita tidak sepenuhnya memahami kehidupan. Kita tak punya kemampuan mahakuasa memanipulasi materi untuk membuat sesuatu. Saya akan mengatakan Kate telah membangun sebuah sel. Saya tidak berpikir ia menciptakan kehidupan," kata Endy, profesorbioteknologi di Stanford University.

Dalam bentuknya saat ini, SpudCell tak menimbulkan risiko keamanan dan tidak dapat misalnya digunakan untuk senjata biologis. "Namun, apa ini menjanjikan masa depan di mana lebih banyak orang akan dapat membangun sel? Ya. Apa ada potensi masalah keselamatan dan keamanan di sekitar hal tersebut? Ya. Apakah kita harus mengelolanya dengan baik? Ya," ujarnya.

SpudCell diharapkan menjadi standar global biologi sel sintetis, bertindak layaknya sistem operasi open source. Tujuannya adalah menjaga teknologi inti SpudCell tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin mengerjakannya. Akademisi atau organisasi nirlaba akan dapat menggunakannya gratis dan ada biaya untuk penggunaan komersial.




(fyk/fay)
TAGS




Hide Ads