×
Ad

Ngeri! Gelombang Panas Eropa Sudah Tewaskan 1.300 Orang

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 29 Jun 2026 13:04 WIB
Sekelompok orang di Jerman berpayung menahan panas yang melanda Eropa (Foto: DW News)
Jakarta -

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kembali memicu perdebatan soal kesiapan benua tersebut menghadapi perubahan iklim. Selain memakan korban jiwa, cuaca panas juga menyoroti minimnya penggunaan pendingin ruangan (AC) di banyak negara Eropa.

Dikutip dari BBC, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) terjadi sejak 21 Juni 2026 akibat suhu ekstrem. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara juga mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah.

Jerman mencatat suhu hingga 41,7 derajat Celsius, menjadi rekor nasional baru. Polandia menyentuh 40,5 derajat Celsius, sementara Republik Ceko mencatat 41,1 derajat Celsius. Ketiga negara itu memecahkan rekor suhu pada akhir pekan lalu.

"Tekanan panas (heat stress) sering disebut sebagai 'pembunuh senyap' dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah unggahan di X.

Di tengah kondisi tersebut, perhatian publik tertuju pada rendahnya penggunaan pendingin ruangan di Eropa. Berbeda dengan negara-negara seperti Amerika Serikat atau Jepang, banyak rumah di Eropa dibangun untuk mempertahankan panas saat musim dingin, bukan membuang panas saat musim panas.

Selain itu, gelombang panas ekstrem baru menjadi lebih sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Banyak bangunan tua juga tidak dirancang untuk pemasangan AC, sementara penggunaan pendingin ruangan secara masif dikhawatirkan akan meningkatkan konsumsi listrik dan emisi jika sumber energinya masih berasal dari bahan bakar fosil.

WHO mengingatkan bahwa Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat, dengan laju sekitar dua kali rata-rata global. Akibatnya, gelombang panas yang dahulu hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade kini hampir muncul setiap tahun.

Para ahli menilai solusi jangka panjang tidak hanya mengandalkan AC. Kota-kota perlu memperbanyak ruang hijau, memperbaiki desain bangunan agar lebih tahan panas, meningkatkan sistem peringatan dini, dan mempercepat upaya pengurangan emisi gas rumah kaca untuk menekan dampak perubahan iklim di masa depan.



Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"

(rns/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork