Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Skenario Mencekam Perjalanan Manusia ke Planet Saturnus

Skenario Mencekam Perjalanan Manusia ke Planet Saturnus


Fino Yurio Kristo - detikInet

Cincin B di Planet Saturnus memicu misteri baru
Planet Saturnus. Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Manusia telah menjelajahi luar angkasa selama 65 tahun. Jarak terjauh yang pernah kita capai ditorehkan bulan April bersama kru Artemis II. Mereka mencapai jarak sejauh 406.771 kilometer dari Bumi. Itulah batas jangkauan penjelajahan manusia ke dalam kosmos saat ini.

Seberapa jauh kita bisa mengirim manusia ke luar angkasa jika kita mau? Jika karena satu dan lain hal, kita harus mengirim beberapa orang ke Mars saat ini, situasinya mungkin sulit tapi kemungkinan besar berhasil. Di jarak terdekat, perjalanan ke sana memakan tujuh bulan dan mungkin ada cara kembali lebih cepat. Namun bagaimana dengan misi ke Saturnus?

Rencananya, Anda terbang ke Saturnus, mengumpulkan sampel dari Enceladus, bulan es dengan samudra dalam,dan Titan, bulan terbesar dengan danau metana, lalu pulang ke Bumi. Berapa lama? Nah, ada studi yang menilai kelayakan misi pengembalian sampel ke sistem Saturnus dan diperkirakan waktunya sekitar 17 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Sejatinya sudah ada banyak teknologi pendukung dan sebagian besar rencana tersebut sangat mungkin diwujudkan. Mereka punya ide cemerlang mengurangi massa bahan bakar. Begitu tiba di Titan, manusia akan menghabiskan beberapa tahun untuk mengubah atmosfernya yang kaya metana serta es air yang terkubur menjadi bahan bakar.

Tantangan nyatanya adalah kendaraan pulang, yang perlu diisi ulang bahan bakarnya di Titan. "Apa yang kami tunjukkan adalah pada dasarnya sangat memungkinkan untuk membuat propelan dari bahan-bahan yang kita miliki di Titan," ungkap penulis studi Geoffrey Landis, fisikawan dan ilmuwan roket di NASA.

Ada baiknya dikirimkan beberapa misi tak berawak lebih dulu untuk memproduksi bahan bakar. Kru nanti tinggal terbang melintasi sistem Saturnus, mengambil berbagai sampel, mengisi bahan bakar di 'pom bensin antarplanet' dan terbang pulang. Ini akan memangkas beberapa tahun yang dibutuhkan untuk membuat bahan bakar, tapi tetap saja memakan waktu lebih dari satu dekade.

"Perjalanan pulang perginya memakan waktu yang sangat lama, 17 tahun berangkat dan pulang, jadi ini bukanlah misi yang cepat. Itu mungkin agak terlalu lama bagi manusia," cetus Landis yang dikutip detikINET dari IFL Science.

Nah soal makanan, untuk perjalanan selama 17 tahun, jumlahnya akan sangat fantastis. Astronaut cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori dibandingkan manusia di Bumi. Mengingat kita belum menemukan cara untuk memproduksi makanan di luar angkasa dalam skala besar, Anda harus membawa semua kebutuhan konsumsi untuk keseluruhan perjalanan.

Jika ingin mengambil jalan pintas, kita bisa saja membawa makanan sangat padat kalori, seperti minyak samin. Namun mari kita berikan nutrisi seimbang ke astronaut, dengan mengalokasikan sekitar 2 kilogram makanan per astronaut setiap hari. Itu berarti lebih dari 12 ton makanan untuk setiap astronaut selama misi berlangsung.

Segala sesuatu tentang misi ini berskala masif dan bahkan belum membicarakan risiko seperti radiasi. Hal itu akan membutuhkan perisai ekstra di pesawat, yang tentu akan menambah bobot lebih berat lagi.

"Itu akan menjadi perjalanan yang amat sangat panjang jika Anda menggunakan sistem propulsi kimia yang ada saat ini. Saya sangat menginginkan sistem propulsi berdaya dorong lebih kuat. Ini akan jadi sistem di mana Anda benar-benar akan memanfaatkan reaktor nuklir," sebutnya.




(fyk/afr)
TAGS




Hide Ads