Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ilmuwan: Benua Afrika Terbelah Lebih Cepat dari Dugaan

Ilmuwan: Benua Afrika Terbelah Lebih Cepat dari Dugaan


Fino Yurio Kristo - detikInet

Sebagai benua terbesar kedua di dunia, Afrika memiliki beragam keajaiban alam dan budaya. Berikut ini deretan negara terbesar di Afrika. Penasaran?
Benua Afrika. Foto: Getty Images
Jakarta -

Para ahli geologi menemukan benua Afrika akan terbelah lebih cepat dari yang kita duga. Sebuah retakan aktif mencapai ambang batas kritis dan akan segera pecah dan akhirnya membentuk samudra baru. Kata 'segera' di sini adalah relatif. Prosesnya masih beberapa juta tahun lagi, tapi itu hanya sekejap mata dalam skala waktu geologis.

"Kami menemukan proses keretakan di zona ini jauh lebih maju dan kerak buminya lebih tipis, daripada yang disadari siapa pun. Afrika Timur telah berproses lebih jauh dalam proses keretakan ini dibanding yang diperkirakan sebelumnya," kata Christian Rowan, ahli geosains di Columbia University yang dikutip detikINET dari Science Alert.

Hal paling menarik dari temuan ini adalah implikasinya terhadap sejarah manusia. Zona Retakan Turkana di Kenya kaya fosil hominin purba, menyiratkan bahwa tempat ini merupakan lokasi kunci evolusi manusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun temuan baru ini menunjukkan wilayah tersebut mungkin tidak selalu lebih penting bagi nenek moyang manusia dari tempat lain di Afrika. Sebab, mungkin saja proses geologis inilah yang menciptakan kondisi sangat ideal untuk proses pembentukan fosil (fosilisasi).

Susunan benua di Bumi saat ini terasa konstan, padahal mereka selalu bergerak meski sangat lambat. Lebih dari 200 juta tahun lalu, semuanya menyatu dalam satu benua super dan diprediksi di masa depan, sebagian besar benua-benua ini akhirnya kembali menyatu.

ADVERTISEMENT

Di mana dua lempeng tektonik bertemu, pegunungan terbentuk. Di mana mereka bergerak menjauh, lautan tercipta. Sistem Retakan Afrika Timur adalah contoh skenario kedua. Lempeng Afrika saat ini sedang terbelah dua, lempeng Nubia masif di sebelah barat, yang mencakup sebagian besar benua tersebut. Lalu ada lempeng Somalia yang lebih kecil, mencakup sebagian besar pesisir timur dan pulau Madagaskar.

Dalam studi baru, ilmuwan fokus pada bagian spesifik dari sistem tersebut yaitu Retakan Turkana, yang membentang ratusan kilometer melintasi Kenya dan Etiopia. Tim menganalisis pengukuran seismik dan menghitung seberapa tebal kerak Bumi di sana.

Ternyata, kerak jauh lebih tipis dari perkiraan, hanya sekitar 13 kilometer di tengah retakan. Sebagai perbandingan, ketebalan kerak Bumi mencapai lebih dari 35 kilometer di sepanjang tepinya.

Saat kerak bumi di zona retakan lebih tipis dari sekitar 15 kilometer, berarti kerak tersebut memasuki fase penipisan ekstrem (necking). Setelah mencapai titik tersebut, terbelahnya benua nyaris tak dapat dihindari. "Semakin tipis kerak, semakin lemah pula kerak tersebut, yang akhirnya mendorong keretakan terus berlanjut," kata Rowan.

Beberapa juta tahun ke depan, keretakan ini akan menyelesaikan fase tersebut dan memasuki fase oseanisasi. Seperti namanya, ini adalah tahapan bagaimana samudra baru terbentuk.

Kerak Bumi akan meregang begitu tipis sehingga magma akan meletus dari bawahnya, yang kemudian menggenang dan mendingin untuk membentuk cekungan. Cekungan ini akan menjadi dasar laut baru, seiring masuknya air dari Samudra Hindia. Proses ini sebenarnya sudah mulai terjadi di Cekungan Afar di timur laut Afrika.

Peneliti memperkirakan Retakan Turkana sudah memasuki fase necking sekitar 4 juta tahun lalu, setelah periode panjang aktivitas vulkanik. Menariknya, ini sejalan dengan usia fosil dan bukti keberadaan hominin terawal yang ditemukan di sana.

Ini kemungkinan besar bukan kebetulan. Ketika retakan menipis, sedimentasi mulai menumpuk lebih cepat, menjadikannya kondisi sangat sempurna untuk mengawetkan detail bentuk kehidupan saat itu. "Fase ini menyediakan kondisi kritis yang dibutuhkan untuk pengawetan fosil," tulis peneliti. Penelitian ini dipublikasikan jurnal Nature Communications.




(fyk/asj)




Hide Ads